Sandal Ustad Buya

Karena itu ia tidak merasa rugi kalau berhenti, pikirnya kembali sambil menghapus kenangan. Sebab ia menjadi ustad juga secara kebetulan. Namun permintaan demi permintaan dari masjidmasjid terus saja mengalir.Ponselnya seperti tidak pernah putus berdering. Ia semakin kewalahan. Ia seperti tidak bisa memilih dan memutuskan. Dalam gebalau pertimbangan itulah mobil berkaca gelap yang dikendarainya tiba-tiba dihantam dari sisi kanan depan oleh sebuah truk. Ia tidak sadar diri.

***

Ustad Buya Limo mengetahui dirinya sudah berada di atas pembaringan di rumah sakit setelah beberapa hari kemudian. Ia menangis tersedu beberapa lama saat mengetahui kedua kakinya sudah diamputasi. Bagian kakinya dari telapak kaki hingga atas lutut sudah tidak ada lagi. Sanak keluarga yang setiap hari menemani memintanya tabah. Begitu pula dengan orang-orang yang memang demikian banyak, termasuk para pengurus masjid, yang setiap hari ganti-berganti berkunjung.

Dia meraba kepalanya yang memang masih dililit perban. Tiba-tiba ia merasakan perihnya. Tapi tiba-tiba pula ia mengucapkan, “Astagfirullah..”. Mungkin karena benturan di kepala ini, pikirnya. Ya, karena benturan itulah ia jadi bisa mengingat kelakuannya yang tidak terpuji di masa kecil: sering mencuri sandal jemaah masjid!

Tidak sengaja ia tersenyum.

“Ada apa?” tanya salah seorang pengurus masjid yang membesuknya heran tetapi sekaligus tidak sengaja ikut tersenyum. Pembesuk lain ikut senang.

“Tidak apa-apa,” jawabnya, masih tersenyum.

“Ustad seperti mendapat ilham.” Timpal seseorang.

“Saya sudah tidak ada masalah lagi keluar masuk masjid. Saya benar-benar tidak memerlukan sandal lagi…” jawabnya masih tersenyum.

Para pengunjung dan terutama keluarganya ikut tersenyum, meski merasa sedikit perih.*

 

Padang, Mei 2015

Arsip Cerpen di Indonesia