Menyesap Aroma Kematian

Bagaimana mungkin seseorang mencegah kematiannya? Batinku.

Dua tahun berikutnya, Ibu dan Ayahku meninggal karena sebuah kecelakaan mobil. Perkaranya, pikiranku langsung mengarah pada, “Kenapa aku tidak bisa mencegah kematian orang tuaku?” Padahal, aku benar-benar tidak terlibat malam itu. Ibu menitipku ke Bibi Ais sebelum ia pergi bersama Ayah. Pada saat yang sama, aku mulai kehilangan bagian dari diriku. Mulai dari keluarga yang menganggapku aneh (tentu pengecualian untuk Bibi Ais), lalu menjalar ke lingkaran pertemananku, dan aku mulai sadar bahwa orang-orang di dunia ini tidak diciptakan untuk menganggap penting di luar dari dirinya. Semua orang egois, bahkan orang yang mencintaimu sekalipun.

Perjalanan ke pergantian hari menjadi sangat panjang. Itu saat film habis dan aku mulai lapar. Kulkas hampir kosong, hanya tersisa pinggiran roti dan selai kacang dua minggu yang lalu. Alunan musik Sinfonietta karya Janacek terdengar bising dari turntable-ku. Aku keluar menuju teras, semua lampu hampir mati ketika memasuki pukul 12 malam. Dengan roti di tangan, aku berusaha menerka-nerka siapa yang dengan ikhlas mengunjungi pemakamanku nanti. Setidaknya menitikkan air mata yang ia perlihatkan pada dunia agar dianggap berempati. Semua kepalsuan itu membuatku kesal. Apalagi dengan adanya media sosial. Seakan-akan pamor adalah segalanya.

Malam itu sangat dingin dan napasku terasa agak berat. Kuhabiskan roti itu dan kembali masuk untuk mematikan alunan musik. Setiap sudut rumah terlihat sangat sepi. Kubiarkan hanya satu lampu yang menyala. Dengan begitu, kesunyian adalah apa yang ada di rumah ini. Padahal, aku bisa saja mengajak Bibi Ais untuk tinggal bersamaku, tetapi tidak kulakukan. Tanpa mengunci pintu, aku meninggalkan  rumah untuk rencana berikutnya.

Di jalan poros yang terdapat perempatan paling bising di kompleksku, aku berbelok memasuki jalan Bunga Duri, berjalan hingga beberapa ratus meter hingga mendapat pertigaan menuju jalan tol. Di sana, aku akan berbelok ke utara menuju sebuah jembatan. Di pinggir jembatan, terdapat sebuah seng yang sudah diberi pilox “DILARANG BUNUH DIRI DI TEMPAT INI!” seseorang menambahkan tulisan di bawahnya “DAN TEMPAT LAIN.”. Membacanya, aku tertawa.

Jalan sudah lengang oleh kendaraan. Lampu jalan yang berwarna agak kuning menyorot diriku yang kurang bersemangat. Seakan-akan aku sedang dalam sebuah pertunjukan teater tunggal untuk amal. Kakiku melangkah melewati pinggiran jembatan. Aku berdiri tepat memandang sebuah sungai besar yang gelap. Hanya suara gemericik air seperti sirene mobil ambulans. Gerimis mulai turun. Perlahan seperti awal musim dingin. Aku tidak akan berpikir ini air mata orang-orang yang menangisiku. Tidak. Biarlah ini menjadi satu langkah menjadi bahagia. Setidaknya untuk diriku.

Arsip Cerpen di Indonesia