Menyesap Aroma Kematian

Gerimis berubah menjadi hujan, hujan berubah menjadi sebuah tangis. Dari samping kiri jembatan, sekitar sebelas meter dari samping kiri, aku melihat seseorang. Dari ancang yang ia ambil, sangat jelas ia akan mengakhiri hidupnya. Tidak terlihat jelas karena cahaya tidak menyorotnya, hingga sebuah cahaya mobil membantuku. Itu orang yang menghampiriku sore tadi. Aku yakin itu. Tanpa ba-bi-bu, ia melompat. Kegelapan mengambilnya.

Dadaku sesak, kaki dan tanganku gemetar hebat. Aku kehilangan keseimbangan dan hampir bernasib sama. Aku mencoba berpijak pada pinggiran jembatan. Meraih aspal untuk menopang badanku dan mencoba duduk dengan bersandar pada pinggiran jembatan. Kulihat tanganku yang masih gemetar dan kepalaku yang terasa seperti dialiri seluruh darah dari tubuhku. Kesadaranku hilang.

Setelah hujan mulai reda, pikiran untuk bunuh diri sudah hilang. Aku hanya ingin pulang dan tidur. Kepalaku berat, pikiranku kacau. Setelah mencoba jalan, aku terjatuh di samping pertigaan jalan. Sebuah mobil berhenti, sorot lampunya mengarah tepat di wajahku. Itu membuat segala apa yang ingin kulihat hanyalah sebuah kesilauan. Setelah menutup cahaya dengan tanganku, aku melihat dua orang yang menopangku menuju mobil. Seseorang merogoh saku celanaku dan seseorang menyetir mobil keluar dari jalan utama. Aku tidak sadar selanjutnya.

Dengan pakaian semalam, aku terbangun pagi harinya. Tidak basah, tetapi aku tahu itu lembab karena masih bersentuhan langsung dengan kulitku. Sedikit gatal dan tidak nyaman. Sembari mengumpulkan nyawa, mataku liar mengamati. Bukan kamarku, tetapi tak asing. Sebuah kamar dengan ukuran tidak besar. Terdapat sebuah kardus berisi penuh mainan anak. Poster Woody dan Buzz pada dinding kamar. Sampai Tamagotchi berwarna biru langit di atas meja. Seseorang mengetuk pintu. Itu Ibuku.

Aku tidak bisa berbicara sampai akhirnya ia bertanya. Karena bingung, aku tidak tahu harus bicara apa. Lebih tepatnya, apa yang perlu aku bicarakan. Ia lalu mendorongku untuk makan meski sempat kutolak. Di meja makan, terdapat nasi goreng dan telur dadar. Ah, kepalaku sakit. Semua pecahan masa lalu tiba-tiba menjadi sebuah rangkaian cerita yang tidak bisa kupahami. Aku menyuap diri dengan perlahan, ia mengambilkanku air putih dingin. Kuteguk air itu. Seorang anak dengan seragam merah putih masuk dengan salam. Mencium tangan ibunya, dan menyapaku. Itu diriku.

Keadaan menjadi sangat aneh. Kulihat tangan kananku, bulu romaku berdiri. Aku mencoba berpikir positif. Hal paling positif yang bisa diterima kepalaku: aku masih tidak bisa membedakan mimpi dan realita, atau aku mengalami de javu, atau aku memang benar-benar berada pada fase awal menjadi gila.

Arsip Cerpen di Indonesia