Menyesap Aroma Kematian

Aku pamit, dan buru-buru pergi.

Sebuah pertanyaan besar mengawang di udara. Jalan yang kususuri adalah jalan menuju rumahku. Itu di sebuah perempatan yang kukatakan bising. Bus bergerak membawaku yang duduk di bangku paling belakang. Tidak banyak orang. Hanya seorang ibu paruh baya bersama anaknya dan seorang pria berumur yang duduk tepat depanku. Pemberhentian terakhir dan aku berlari. Rumahku terlihat sepi tetapi tidak seperti yang kutinggalkan semalam. Memasuki kamar, semua terlihat sangat rapi. Bahkan lemari yang kubongkar semalam, seperti belum tersentuh. Dari kamar tamu, terdengar suara barang yang digeser. Aku keluar dan menemukan Ibu dan Ayah dalam usia yang sangat tua. Ibu melipat pakaian dan Ayah yang menonton teve. Kira-kira hampir tujuh puluh tahun. Seluruh rambut sudah memutih dan kulit yang tidak sekencang dulu. Namun aku tahu itu mereka. Saat itu juga, perasaan sesak di dadaku menghilang. Kepalaku begitu ringan. Aku seperti akan melayang. Seperti sebuah balon gas yang lepas dari tangan anak-anak. Perempuan itu, maksudku Ibuku, tidak menyapaku. Kudekati dan mulai kusapa. Seakan ia tidak mendengarkanku berbicara. Ayah juga begitu, sibuk dengan tontonannya. Kupegang lengan kanannya, tetapi tidak terjamah. Air mataku jatuh. Mulai saat itu, aku sadar, tidak ada hal di dunia sepekat kematian. ***

 

Muhammad Rahul Sarifuddin (Rahul Syarif) lahir di Kendari, 13 April 2000. Mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo, Kendari. Mulai tertarik menulis sejak pertengahan 2014. Aktif mengisi blog personal di rahulsyarif.com dengan cerita sehari-hari, opini, dan cerita pendek.

Arsip Cerpen di Indonesia