Kang Sareh

Pikirannya semakin terbebani. Mengingat dahulu ketika ia meminang istrinya, ia berjanji pada calon mertua untuk membahagiakan putrinya meski tidak berjanji untuk memuliakannya dengan harta. Beban pikiran dan masalah yang menyudutkannya memaksa ia mengatakan sesuatu yang tak pernah istrinya bayangkan.

“Baiklah, Mak! Jika kau ingin pulang, pulanglah ke rumah rama biyungmu. Maafkan aku kalau aku tak bisa membahagiakanmu.” Ia menarik napas sejenak, dengan mata merah dan berkaca-kaca ia melanjutkan, “Aku harus ke musala untuk mengurus zakat. Maaf kalau membuatmu malu. Setahuku zakat itu bagi yang mampu, dan kita tidak mampu. Jika sampai besok pagi tak ada yang mengantar beras ke sini, maka berdosalah seluruh penduduk kampung ini! Tetapi kalau kau masih percaya, tunggulah! Tuhan pasti memberi hambanya rezeki. Assalamualaikum.”

Ia ngeloyor pergi dengan gontai dan punggung terasa seperti memikul beban bertumpuk-tumpuk.

***

“Mak…! Mak…!”

Udara hening, hanya gema takbir yang lirih bersahut-sahutan dari langgar-langgar, namun tidak bagi pikiran Kang Sareh yang dipenuhi kekhawatiran akan istrinya yang minggat. Kang Sareh masuk ke ruang tengah didapati beberapa mainan kayu anaknya yang tergeletak di atas meja dan risban. Ia masuk ke bilik tidur barangkali istrinya sudah tertidur. Tak ada juga, hanya kasur lawas berbalut seprei tua yang sepertinya baru ditata rapi. Sebab, sebelum ia pergi magrib tadi masih berantakan oleh anaknya. Dilihatnya mukena dan sajadah yang terlipat rapi di pojok kasur. Perasaannya mulai gelisah. Napas mulai memburu disebabkan oleh aliran darah yang terkesiap. Jantungnya melaju kencang hingga detaknya tak terdengar mengalahkan gema takbir yang bersahut-sahutan dari corong langgar. Ia lari ke pedangan, barangkali istrinya ada di sana, pun tak ia dapati.

Pikirannya mulai kacau. Ia mengistirahatkan badan yang terbebani itu di atas risban. Perasaan bersalah mulai bergelayut di hati dan pikirannya. Ia menghela napas panjang. Terbayang istrinya dengan wajah gerimis di mata serta anak lanang lucunya yang baru dua tahun. Perkataan masih jelas di telinganya sebelum ia pergi meninggalkan keduanya menjelang isya tadi.

“Astagfirullah…ampuni aku, ya Allah…” hancur sudah perasaannya. Dada yang semenjak tadi gelisah kini bertambah sesak. Air matanya pun jebol, meski hanya tak terlalu banjir. Kedua tangannya memegangi kepala dan meloloskan peci dari kepala. Tubuhnya yang kurus kering ia sandarkan pada risban. Beberapa kali ia mencoba mengatur napas dan menenangkan pikiran, namun tetap tak berhasil. Matanya yang berair itu menerawang jauh. Ia sangat khawatir terhadap keselamatan istri dan anak lanangnya.

Arsip Cerpen di Indonesia