Kang Sareh

Ia putus asa. Merasa gagal dan telah melakukan kesalahan fatal. Di sela-sela keputusasaan, gema takbir malam lebaran yang syahdu itu menelusup ke telinga, mengguncang dada dan menampar pikirannya. Ia tersadar akan tugasnya mengurus zakat di langgar. Ia meloncat berdiri, merapikan pakaian, dan mengenakan peci. Lalu tergopoh kembali ke langgar berniat untuk segera menyelesaikan tugas lalu kemudian mencari istri dan anak lanangnya.

Sampai di langgar, wajahnya masih pasi. Berbeda dengan petugas-petugas zakat lain yang tampak riang. Ia kembali duduk dan kembali memegang buku perhitungan.

“Semuanya sudah ya, Kang?” ucapnya untuk menutupi rasa tegang.

“Sudah, tinggal kita bagi. Kami menunggumu sedari tadi, kau pulang bilang sebentar tetapi lama sekali.” Jawab Kang Salim sambil memelintir tembakau lintingan.

Pikirannya kacau lagi, ia menarik napas dalam-dalam agar air matanya tak keluar.

“Berarti tinggal saya yang belum setor ya, Kang?

“Hahaha… Kau ini bercanda saja bisanya,” sergah Kang Iman.

Loh, kok sudah ada catatannya? Lengkap pula, siapa yang setor, Kang?” dilihatnya buku catatan setoran zakat dan terpampang namanya, istrinya, juga anak lanang kesayangannya.

“Lah, kau tadi pulang dan menyuruh penjaga pintu rumahmu untuk mengantar, kan? Ayo cepatlah, aku sudah ingin istirahat,” timpal Kang Salim sambil menyedot lintingan yang dari tadi dipelintirnya.

“Alhamdulillah…” ucapnya dalam hati, sekalipun ada seribu pertanyaan di benaknya.

“Reh, kau kelihatan pucat, lebih baik kau yang bagi sekitar sini saja, biar Iman yang ke RW sebelah ditemani beberapa pemuda, selebihnya urusanku.” Begitulah instruksi dari Kang Salim sebagai ketua amil.

Seusai membagi zakat, ia masuk ke rumah dengan menggendong tanda tanya. Dijumpainya dua bungkus rokok keretek filter, songkok bermerek, dan segelas kopi yang sudah agak hangat tergeletak di atas meja.

“Mak!”

“Dalem,” jawab istrinya dengan suara yang renyah sambil menghampiri Kang Sareh dengan senyum melengkung seperti bulan sabit, meski masih ada bekas kantung mata yang menggantung di bawah kelopak matanya.

Arsip Cerpen di Indonesia