Menyematkan Saka

Magana masih berumur tiga tahun ketika pelarian itu terjadi. Tak begitu jelas bagaimana wajah ibunya tergambar, yang jelas dalam tubuhnya mengalir darah perempuan itu dan dia pernah disusui selama tiga belas bulan sebelum air susu itu mulai menyusut karena empunya yang tak mau makan.

Pemberontakan ibunya berangsur-angsur besar. Mulai dari tak mau makan, tak mau mengurus Magana sampai hari itu, dia bersandar di daun pintu belakang dan memandangi pohon cokelat yang hampir mati, daunnya tinggal satu-satu, berwarna kuning emas, yang dua hari lagi akan berwarna cokelat juga rontok dihembus angin.

Tatapannya kosong dan menyedihkan, sambil terus menyeracau dia bantingkan pintu dan meninggalkan rumah. Magana tak berkutik, dia yang hanya tahu menangis malah semakin tak karuan dan mencoba menghentikan dengan memanggil pendek kata sapaan untuk ibunya itu.

Tak ada yang bisa menahan kepergiaannya, bahkan Tio sekali pun. Memang pernikahan itu bukan kemauan mereka, pertemuan itu juga bukan keindahan dari emosi dan perasaan, segala keterpaksaan mereka terima dan hadirlah Magana untuk meyakinkan keluarga besar bahwa mereka baik-baik saja.

Kepergian Mila sangat menyisakan luka, meski pertemuan mereka adalah bujukan keluarga tapi Tio benar-benar jatuh cinta. Bagaimana tidak, Mila yang tubuhnya bening cemerlang, dengan rambut lurus hitam legam sebahu juga pahatan di wajahnya yang luar biasa. Pipinya pas, tidak gembul juga tidak tirus, dilengkap idep yang lentik menjulang, juga alis rapi persis semut beriring. Hidungnya tak terlalu bangir tapi cukup untuk membuat wajahnya menjadi sempurna.

Dan sampai kepergiannya pun, hanya Tio yang jatuh, tidak untuk Mila. Dia tak pernah ingin pernikahan semacam ini. Bahkan dia bisa dapat yang lebih dari Tio pikirnya. Pekerjaan Tio hanya bergantung kepada langit, kalau hujan ya tidak kerja, bagi Mila bukan tujuan hidupnya untuk jadi istri petani sayur musiman. Dia bisa dapatkan yang lebih, dulu pun ada seorang pegawai di kantor desa yang tergila-gila padanya tapi restu tak bersama mereka dan malah Tio yang dipilih keluarga Mila untuk menjadi suaminya.

Segala macam cara dilakukan Mila untuk menghancurkan pernikahan itu, sampai beling bekas hempasan gelas sudah menggilas tangan Mila, berharap nyawanya pulang meski hal itu tidak juga mengantarkannya pada kematian.

Tak ada yang bisa Tio lakukan kecuali menerima segala yang sudah digariskan. Dia mengurus Magana dengan segala kehati-hatiannya. Di sudut-sudut ruangan, dia selipkan di beberapa tempat untuk keperluan Magana. Susu formula sempat dirasakan Magana meski tak lebih dari lima kotak. Itu saja sudah cukup untuknya menjadi secerdas sekarang.

Arsip Cerpen di Indonesia