Menyematkan Saka

Segala kehati-hatian itu mengantarkan Magana menempati peringkat pertama di kelasnya, bahkan sampai dia tamat dari Sekolah Dasar itu, dia tetap di urutan pertama. Puas rasa hati Tio meski sakit juga menggerogotinya, sakit kepada dirinya sendiri yang tak mampu memberi kehidupan untuk anak dan istrinya, ah bukan, mantan istrinya.

Kabar terakhir yang Tio dengar, Mila kembali ke laki-laki itu dan kembali mengikat rindu dan entah pergi ke mana. Pasalnya Tio sudah datangi rumah mertuanya, beriktikad agar tak ada kekeliruan, kalau memang Mila ternyata pulang ke rumah ibunya maka dengan senang Tio melepas rindu walau dia tak harapkan kembalinya Mila ke pelukannya.

Dengan kebesaran hati, Tio berhasil menjadikan Magana putri yang paling cantik dan baik hati. Sampai Magana ternyata bisa menyambung ke Sekolah Menengah Pertama. Magana kembali menebar kebaikan dan berhasil duduk menjadi juara umum berturut-turut. Jika ada kata yang lebih mewah dari bangga maka Tio akan sematkan untuk anak satu-satunya itu.

Cukuplah memberi kebahagiaan bagi Tio dianugerahi anak macam Magana itu. Magana dapatkan segala kebaikan dalam hidupnya, syukur selalu dia guguskan. Sampai saat Sekolah Menengah Akhir itu datang, ada beberapa beasiswa datang untuknya menawarkan kuliah gratis dan semacamnya. Tak luput beasiswa miskin pun dia direkomendasikan untuk andil di sana.

Sejenak Magana berpikir, kalaulah dia pergi jauh ke kota atau bahkan ke luar dari provinsinya saat ini, maka Bapaknya akan ditinggalkan juga. Dilema menyergap Magana sampai dia putuskan untuk tetap di rumah saja. Menjadi anak yang baik untuk Bapaknya adalah tidak meninggalkan.

Begitulah sampai hari ini, Magana masih diam saja di rumah. Menunggu hari dia mungkin dilamar, tapi rasanya tak mungkin Magana dilamar orang karena dia hanya berondok di rumah dari fajar hingga petang sambil sesekali mengeluarkan suara bernyanyi sesuka hatinya.

***

“Magana, sudah berapa umurmu sekarang?”

“Sudah kepala dua aku, Pak. Dua bulan lagi umurku dua puluh satu tahun. Tidakkah bapak ingat?”

“Mana bisa lagi Bapak mengingat itu semua, ingat di mana harus membuang kotoran saja masih syukur.”

Arsip Cerpen di Indonesia