Benar, bapaknya sudah semakin tua, sampai hari ini dialah yang berhasil mengurus Magana dengan luar biasa. Meski marahnya berlebihan, itu adalah bentuk emosi yang mungkin susah untuk bapaknya kendalikan.
Dari tumpukan marah-marahnya Magana tetap diberi kasih sayang yang tulus. Bisa dipastikan Tio benar-benar mencintai perempuan itu hingga detik ini pun dia tak berniat menikah lagi.
Buliran itu menderai hangat di pipi mentah Magana, dia melihat banyak garis-garis yang menyatakan itu adalah bentuk nyata bahwa salama ini Bapaknya berjuang keras untuk hidup seorang anak perempuan bernama Magana.
“Magana, kalau memang sudah ada yang menarik perhatianmu, bilang saja. Aku akan merestui segala yang kau pilih.”
“Aku tak pernah memberi kebahagiaan apa pun untuk Bapak, aku dibesarkan dengan sebaik ini, sangat tak ada pikiranku kalau pergi begitu saja meninggalkanmu.”
“Kebahagiaanku hanya kau tinggal, Magana, jadi bahagiamu adalah aku.”
“Tak Bapak inginkan menikah lagi?”
“Pertanyaan itu bisa saja membuatmu kutampar untuk pertama kalinya. Tak ada yang lebih abadi dari senyum ibumu dalam pikirku.”
***
Jual saja sepenggal tanah itu, Magana. Untuk saka di rumahmu. Kalau pun nanti aku tak bisa menggendong cucuku, setidaknya, aku juga ikut melindungi dia dari hujan dan panas. Jadikan rumahmu tempat berpulang paling nyaman.
“Kau merindukan Bapak, lagi?”
“Iya.”
“Siapkanlah baju koko untukku dan pakaian panjang anak-anak. Si Kakak juga sudah mampu mengikuti kita membaca Yassin.” ***
Ami Khairunnisa. Mahasiswi FKIP UMSU semester IV, tergabung di komunitas FOKUS UMSU.