“Bukankah Kisanak juga pelarian?”
Pertanyaan si nenek bagai palu menghantam dada dan membuatnya gelisah. Entah berapa lama si Monyet akan singgah di kampung ini. Ia bertekad tak boleh lama-lama. Ia hanya butuh dua-tiga hari untuk memulihkan tenaga dan menyembuhkan diri dari luka goresan di tubuh. Ia harus segera keluar dari kampung ini dan meneruskan pelarian entah ke mana.
***
Begitu sampai kampung ini menjelang subuh hari kemarin, si Monyet menemukan satu-satunya kedai di tepi desa. Kedai milik nenek yang sudah sangat sepuh yang tampaknya selalu sepi pembeli. Hanya sesekali melayani petani atau pencari kayu bakar atau pejalan yang singgah seperti si Monyet. Hampir tak ada makanan atau jajanan dijual, kecuali teh, kopi, jagung, dan umbi-umbian rebus, serta nasi dengan lauk alakadarnya, yang seakan mewakili keadaaan kampung ini yang serbaterbatas. Si Monyet yakin tak ada persitiwa menarik untuk dicatat di sini.
Si Monyet memesan makan untuk mengisi perut yang keroncongan. Ia berharap pemiliki kedai tak bertanya lebih jauh soal asal-usulnya, apalagi bertanya kenapa ia jadi pelarian. Syukurlah, harapannya terkabul. Si nenek dan suaminya yang sama-sama sepuh sibuk mengupas dan memreteli biji-biji jagung ke wadah anyaman bambu tanpa banyak bersuara, kecuali mendehem dan batukbatuk kecil.
Si Monyet duduk berlama-lama seusai menandaskan makanan, menanti kesempatan bagus untuk bertanya perihal tempat untuk menginap. Pemilik kedai, suami-istri yang telah sepuh itu, menawarkan bilik belakang rumah, dekat kandang kambing.
“Atau Kisanak bisa datang ke kepala dusun. Mungkin beliau bisa menyediakan tempat lebih layak,” kata si pemilik kedai.
Si Monyet memilih bilik belakang rumah mereka. “Lebih sedikit orang tahu keberadaanku lebih baik,” pikir si Monyet. Dia memesan kopi secangkir lagi setelah sepakat soal harga sewa bilik itu. Dia menyesap kopi sambil mengamati betapa misterius kampung ini. Selama enam jam dia duduk di kedai ini, hanya dua orang singgah untuk membeli makanan.
Meski sempit, bilik itu tak terlalu buruk. Ada ambin dengan bantal pipih, meja kecil, dan sebuah jendela. Lumayan buat sekadar istirahat. Si Monyet memeriksa luka goresan di hampir sekujur tubuh. Luka-luka yang tak terlalu dalam dan sebagian mulai mengering, tapi lumayan perih terutama bila terbasuh air. Ia kesulitan memeriksa luka di punggung. Bilik itu tak menyediakan cermin. Ia hanya bisa meraba-raba. Ia merasa gatal di sekeliling luka, tanda luka mulai sembuh.