Kampung Pelarian

Seingatnya, sebelum menemukan diri berlari keluar-masuk hutan dan menyeberangi sungai, ia sedang tidur-tiduran di rumahnya di tepi telaga. Tak mendengar suara-suara apa-apa selain kemirisik dedaun diembus angin yang melintas pelahan, dan sesekali kecipak ikan yang melompat dari bawah permukaan air. Ia yakin betul ingatannya tak keliru. Namun, kenapa tiba-tiba jadi pelarian, membawa buntalan berisi satu setel baju dan buku, ke dalam hutan?

Si Monyet untuk sementara pasrah dan mengalah pada ingatan yang serapuh abu kayu sisa pembakaran. Semua berjalan mulus sampai ia berpapasan dengan seorang gadis saat hendak ke sungai di kaki bukit. Gadis itu menatap terangterangan dan melemparkan senyum yang membuatnya takjub dan kikuk. Si Monyet ingin segera berlalu. Namun si gadis memanggil. “Mas Badra, saya tahu Anda pelarian,” kata si gadis. “Saya juga tahu Badra bukan namamu yang sebenarnya.”

Gadis itu membuka ingatannya; ia mengingatkan si Monyet kepada Ratmi, perempuan yang diam-diam mencintainya. Ratmi sering datang membawa gula kopi dan makanan ke rumah yang si Monyet jadikan markas untuk tempat kumpul-kumpul dengan sejumlah teman yang selalu tampak bersemangat mendengar wejangannya. Gula dan kopi dan penganan yang dibawa Ratmi sungguh berguna membantu mereka untuk berdiskusi sampai jauh malam. Mereka mengajari warga di kaki bukit itu untuk menolak menjual tanah.

Ah, si Monyet ingat sekarang. Suatu hari mereka bergandengan tangan menuruni bukit, mengadang truk-truk yang hendak meratakan bukit. Mereka berhasil menghentikan truk-truk itu. Mencegah mereka mengeruk bukit. Percekcokan tak dapat dihindarkan antara teman-teman si Monyet dan para sopir truk. Situasi tak terkendali saat seorang sopir truk menampar salah seorang kawan si Monyet, hingga terjungkal lantaran tak mampu menjaga keseimbangan tubuh berdiri di tanah miring. Tubuhnya menggelinding ke bawah.

Mendadak kemarahan menguasai si Monyet. Ia memungut batu dan menghantamkan ke kepala sopir truk. Si Monyet panik melihat sopir truk terhuyung dan terjengkang. Saat dia ternganga panik, sebuah pukulan mendarat di pelipisnya dan mengempaskan dia. Ia terpelanting dan menggelinding ke bawah. Sebongkah tunggul pohon menyambut kepalanya.

“Aku bisa membawamu keluar dari pelarian ini atau selamanya di kampung pelarian ini,” kata si gadis. (28)

 

Aris Kurniawan, lahir di Cirebon, 24 Agustus 1976. Dia menulis cerpen, puisi, resensi, esai. Buku cerpen terbarunya Monyet Bercerita (2019).

Arsip Cerpen di Indonesia