Kampung Pelarian

Ia merasa luka goresan di punggung tak sebanyak di betis dan lengan. Sekarang giliran memijit-mijit betis yang masih kaku. Pantaslah, ia berlari hampir tak pernah berhenti selama seharisemalam. Setelah merasa lumayan enak ia merebahkan tubuh dan memejamkan mata. Kegelisahan pun mendera demi memikirkan tujuan pelarian yang belum jelas sampai kantuk menaklukkan.

Pagi-pagi ketika sinar matahari menerobos bilik membentuk batang-batang cahaya, seseorang memanggil dari luar. Itu suara ibu sepuh pemilik kedai. Dia tak memanggil Monyet, tentu saja, karena itu bukan namanya.

“Mas Badra,” panggil pemilik kedai.

Itu juga bukan nama sebenarnya. Ia menyebutkan nama yang ia pungut sekenanya saat ditanya perihal nama. Memperkenalkan nama itu semata demi keamanan. Monyet sekadar julukan yang diberikan bibi dan saudara-saudaranya lantaran waktu kecil tingkahnya lucu dan cekatan mirip monyet kecil dalam pertunjukan sirkus. Ia tak keberatan dengan panggilan itu karena tahu mereka tak bermaksud merendahkan. Sebaliknya ia bangga.

Adiknya yang pendiam dan sangat pemalu dipanggil si Moa, lantaran akan selalu menyembunyikan diri di kamar setiap ada orang baru bertandang. Nama dia sebenarnya Darma. Orang tuanya sangat menggemari cerita Raja Angling Darma. Seorang raja yang mampu bercakap-cakap dengan serangga dan hewan-hewan lain. Ingatan itu membuatnya merasa begitu kesepian, tapi tak tahu bagaimana mengobati.

Julukan Monyet seperti isyarat dia lebih menyukai tinggal di antara pepohonan yang banyak tumbuh di kampungnya di tepi hutan. Adiknya pergi meninggalkan kampung di lereng gunung untuk bekerja di kota. Beberapa tahun kemudian kembali untuk memboyong orang tuanya. Sementara si Monyet lebih betah di kampungnya yang sepi dan hanya ditemani suara-suara hewan.

Panggilan di luar terus terdengar dengan jeda lebih lama. Ia segera menyahut dan membuka pintu. Si ibu berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi penganan dan kopi. Si Monyet segera meraih nampan berisi kopi dan jagung rebus. Dia genggam jagung rebus yang masih panas dan mengepulkan uap tipis.

Selama lima hari di kampung ini, si Monyet lebih banyak termenung di dalam bilik. Ia hanya keluar untuk menuntaskan kebutuhan tubuh yang tak bisa ditahan: makan dan membuang ampas. Itu dia lakukan setenang mungkin supaya tak ada orang curiga. Ia termenung bukan hanya memikirkan ke mana melanjutkan pelarian, melainkan juga mengingat- ingat kapan dan untuk apa pernah ke kampung ini. Ia gusar karena tak menemukan ingatan. Namun yang jauh lebih menggusarkan adalah peristiwa apa yang membuat dia jadi pelarian.

Arsip Cerpen di Indonesia