Seekor Ular di Dalam Rumah

“Terima kasih, terima kasih, Tuan. Aku tak tahu harus membalas dengan cara apa semua budi baikmu?”

“Besok kau boleh ikut denganku.”

“Ikut? Ikut ke mana, Tuan?” tanya Ular penasaran.

“Aku akan mengajakmu keliling kota, kita akan main sirkus.”

Matanya berbinar, tak lagi tampak wajah murung seperti saat pertama dia datang.

“Sirkus?”

“Iya, sirkus. Nanti kau bisa ikut membantu. Kau mau kan?”

Ular itu langsung lantang menjawab, “Tentu aku mau. Bahkan dulu aku menjadi bintangnya sirkus dan namaku sudah terkenal di kalangan persirkusan.”

Tetiba naluriku menangkap sesuatu yang ganjil dari ucapannya. Nadanya terdengar hiperbolis. Apalagi saat dia menceritakan pengalaman mengikuti acara-acara sirkus, dia juga mengaku pernah di dapuk menjadi seorang asisten sutradara saat dirinya masih tinggal di Bogor.

“Oh, baguslah. Kalau begitu aku tak perlu repot lagi mengajarimu, bukan begitu?”

“Pasti, Tuan. Aku akan membantu sepenuh hati dengan totalitas. Kita pasti akan menjadi tukang sirkus paling terkenal di seluruh pelosok negeri ini termasuk di kota tempat tinggal Tuan,” ujarnya menyanjung.

Hari pertama aku mengajaknya mengadakan pertunjukan sirkus; memang penonton cukup membludak bahkan seorang wartawan dari salah satu koran datang untuk menjadikannya bahan berita di tempatnya bekerja. Tak hanya itu, kepala sekolah tempatku belajar dulu, tukang sulap serta kenalan-kenalanku dari luar kota mereka berbondong-bondong ingin menonton seperti apakah keseruan sirkus yang kubawakan.

“Benar kan apa yang kukatakan kemarin? Kita akan sukses besar,” ular itu bicara sambil menegakkan badannya. Dia merasa bangga karena kehadirannya, sirkus yang kubawakan meraup kesuksesan bahkan tenar.

“Ya, dan aku berterima kasih karena kau telah membantu acaraku,” jawabku.

Ular itu merangkulku.

“Aku juga terharu melihat semua ini, aku senang bisa ikut denganmu,” bisiknya di telinga kiriku.

“Nah, sebagai tanda terima kasih, ayo kita isi perut kita dulu. Bukankah dari tadi pagi kau belum makan?”

“Wah, Tuan tahu saja kalau perutku minta diisi,” ucapnya tanpa basa-basi.

Arsip Cerpen di Indonesia