Aku tersenyum melihatnya paling banyak menghabiskan makanan, seperti orang tak makan selama seminggu.
“Sungguh, makanan ini enak sekali, Tuan. Bolehkah aku ambil semuanya?”
Aku tak bisa melarangnya, toh aku pikir itu sebagai balas jasa karena dia sudah ikut membantu dalam pertunjukkan sirkusku.
“Ambillah,” jawabku.
Tanpa malu-malu, Ular itu langsung mengemasi makanan yang masih tersisa di meja makan , separuh ingkung ayam kalkun tandas dalam pe
rutnya yang makin hari kian membuncit.
“Pantas saja badannya makin hari makin melar. Porsi makannya saja paling banyak,” dalam hati aku tertawa geli.
Sejak penampilan perdana di pertujukan sirkus beberapa hari lalu tingkahnya mulai berubah. Puncaknya dia merasa sok kuasa dan menganggap dirinya paling hebat.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, dengkurannya masih terdengar seperti gergaji mesin sedangkan aku sedang memasak di dapur.
“Ah lama-lama memuakkan Ular yang satu itu. Apa dia pikir aku ini pelayannya hingga harus menyiapkan sarapan pagi untuknya.”
“Itu semua salahmu, kenapa kau dulu mau saja menampung ular berbisa itu. Orang-orang di sini juga sudah tahu, makhluk macam apa dia,” seorang tetangga di lingkungan tempat tinggalku justru memarahi dan menyalahkan.
Aku tak pernah berpikir sejauh itu, aku hanya meminta dia untuk membantu dalam pertunjukan sirkus, yang pada akhirnya justru Ular itu memanfaatkan niat baikku.
Telepon selulerku berbunyi, satu pesan whatsapp berbunyi dari seseorang, dia mengabarkan kalau Ular yang ada di rumahku sedang berada di rumahnya. Kata si pengirim pesan dia begitu lancarnya bercerita tentang semua kejelekan sifatku selama dia tinggal di rumahku.
“Bacalah sendiri, betapa dia bercerita bahwa kau ini orang yang bertangan besi, dia bilang kau orang yang pelit,” tulis orang tersebut dalam pesan WA-nya disertai screenshoot percakapan dengan si Ular.
Aku menanggapinya dengan tertawa geli. Sungguh aneh makhluk itu, memang benar-benar ular; pandai sekali memutarbalikkan fakta.
“Lalu, apa kau percaya dengan semua yang dia katakan?” balasku dengan sedikit kekesalan dalam hati.