“Wah, itu nggak boleh! Mereka jelas tahu kewajiban dan tradisi yang diwariskan turun-temurun sejak zaman nenek moyang kita. Dulu sewaktu jadi manusia, bukankah kita juga melakukannya? Menyiapkan sesajian untuk arwah leluhur kita, bahkan merayakannya dengan meriah, membakar kertas-kertas replika rumah-rumahan dan kapal-kapalan.”
“Iya, sekarang berharap uang tael emas dan perak dari mereka pun sudah susah karena tradisi itu perlahan-lahan direvisi.”
“Iya, kesal, kesal, kesal, kesal aku!” jawab arwah 1 ikut-ikutan kesal seperti arwah 2.
Arwah 1 menyepak sebuah batu kerikil yang cukup besar hingga tercampak ke tengah jalan di persimpangan lampu merah itu. Kebetulan, seorang ibu paruh baya sedang menyeberang jalan. Kerikil itu mengenai kakinya dan dia terkait hampir saja terpeleset saat menyeberang di tengah ramainya arus lalu lintas. Untunglah masih ada malaikat pelindung yang menjaganya hingga ibu itu tak apa-apa.
“Nah, giliran kamu yang sembarangan mengganggu manusia!” kata arwah 2.
“Ah, tak seberapa itu! Aku hanya main-main saja,” arwah 1 melengos.
“Ayolah, kita jalan-jalan ke mal. Mana tahu ada makanan enak buat dimakan malam nanti. Perutku sudah lapar,” ajak arwah 2.
“Ayo!” Kedua arwah itu pun melayang-layang berdampingan di jalan raya menuju ke arah pusat kota, tempat di mana banyak terdapat mal besar dan mewah dengan berbagai macam fasilitas restoran cepat saji dan kafe.
Kedua arwah itu sampai di sebuah mal yang sangat ramai. Kebetulan malam Minggu, banyak pengunjung berlalu lalang di areal parkir dan di dalam mal tersebut.
“Hei, lihatlah!” arwah 2 menunjuk sebuah restoran cepat saji.
“Kita makan di sana saja?” tanya arwah 1
“Takutnya tak ada bagian kita,” kata arwah 2.
“Kalau begitu, kita tunggu di sudut saja. Mana tahu ada rezeki kita.”
Kedua arwah itu pun menunggu “rezeki” yang mereka maksud di satu tempat yang terletak di sudut.
***
Chit gwee pua alias bulan 7 tanggal 15 penanggalan lunar.
Arwah-arwah tampak gembira di alam mereka. Pintu gerbang yang mengunci mereka selama ini telah dibuka. Saatnya berjalan-jalan ke alam manusia, menikmati sesajian makanan enak yang melimpah ruah beserta persembahan uang tael emas dan perak.