Di rumah arwah 4:
“Mohon beri petunjuk, apakah Papa sudah datang ke rumah untuk menikmati makanan yang kami sajikan? Berilah seng poi bila iya,” kata anak arwah 4 sambil berlutut dan melemparkan 2 buah poi ke udara. Kedua poi itu membuka dan menutup, pertanda jawabannya, “Iya.”
Arwah 5 sampai di rumah cucunya. Dilihatnya cucunya sudah menunggunya beserta dengan istri cucu dan anak-anak mereka. Keturunannya itu berlutut dengan khidmat di depan papan namanya, memegang masing-masing 3 batang hio. Arwah 5 merasa sangat terharu mendengar doa mereka. Selain meminta maaf atas kesalahan yang disengaja maupun tidak semasa hidup, mereka juga memanjatkan doa semoga arwahnya tenang dan bahagia di alam baka. Lalu meminta berkat supaya disertai dan diberkati dalam tindakan.
Arwah 5 menitikkan air mata bahagia, lalu mencicipi hidangan yang disajikan oleh cucu dan istri cucunya itu.
Arwah 6 sampai di rumahnya. Istrinya sudah menunggu dengan banyak makanan enak hasil masakannya sedari pagi. Tampaknya dia terduduk lelah setelah memasak seharian. Dalam hati, arwah 6 pun mengucapkan terima kasih walaupun dia tak bisa lagi memeluk istrinya.
Di rumah ibadah, arwah 7 merayakan hari arwah bersama ratusan atau bahkan ribuan arwah lain yang plakat nama mereka digantungkan di situ. Ratusan bahkan ribuan pengunjung berasal dari anak cucu cicit para arwah yang hadir di hari itu. Namun makanan yang disajikan semuanya vegetarian walaupun ada yang berbentuk seperti daging namun itu terbuat dari tepung.
Arwah 3 dan arwah 8 sampai di satu tempat perayaan hari arwah yang dilakukan manusia. Tempat itu pun sudah ramai pengunjung yang sembahyang dan makan bersama. Arwah 3 dan 8 ikut makan bersama mereka.
Sampai sekarang, perayaan chit gwee pua/hari raya arwah masih dilakukan. Ini menjadi tradisi turun-temurun yang tak lekang oleh waktu walaupun tergerus teknologi canggih dan kemewahan duniawi, namun tradisi dan sejarah ini sama sekali tak dilupakan apalagi sampai ditinggalkan. ***
(Medan, Juli 2019)