“Kita ke mana dulu?” tanya arwah 3 pada teman-temannya, arwah 4, 5, 6, 7, dan 8.
“Aku mau pulang ke rumah anakku. Setiap tahun dia pasti menyediakan sesajian makanan enak untukku. Dia adalah anak yang berbakti dan tak pernah lupa mengundang kehadiranku,” jawab arwah 4.
Arwah 5 menimpali, “Iya, aku juga mau ke rumah cucuku. Anakku tinggal di luar negeri. Di rumah cuma ada cucuku beserta istri dan anak-anaknya. Semoga saja dia masih ingat akan hari ini. Aku takut mereka melupakannya karena generasi baru dan cicit-cicitku itu sudah menjadi generasi milenial.”
“Aku dengar, generasi milenial sudah jarang diajari melaksanakan dan meneruskan tradisi. Mereka telah dibuai oleh segala macam kenikmatan duniawi, kemewahan hidup, terutama lagi gadget. Sampai tak punya waktu bicara dengan orangtua, apalagi ingat nenek moyangnya. Ah, sudahlah, yang penting tahun ini kita masih bisa makan enak,” cerita arwah 6. “Aku mau pulang ke rumah juga. Walaupun aku tak punya anak, tapi istriku selalu ingat untuk menyambutku dengan masakannya yang lezat setiap tibanya hari ini.”
Arwah 7 ikut bicara, “Aku mau hadir di rumah ibadah, karena abu jenazahku disimpan di situ dan plakat namaku juga digantungkan di situ. Di rumah anak dan cucuku sudah tidak ada lagi papan namaku.”
Para arwah itu memandang arwah 8. “Kamu rencananya ke mana?”
Arwah 8 berkata sedih. “Anak-anakku semasa hidup sudah tak percaya tradisi sembahyang arwah yang diwariskan turun-temurun dari nenek moyang mereka. Kurasa, tahun ini akan seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku hanya akan memandang sedih keadaan di rumah tidak ada perayaan apa-apa. Papan namaku pun entah sudah raib entah ke mana saat mereka menjual rumah lama yang sudah kuno dan membeli rumah vila baru di kompleks perumahan elit. Bahkan, plakat namaku pun tak digantungkan di rumah ibadah. Bayangkan, betapa sedihnya hatiku.”
“Kalau begitu, kamu ikut aku saja,” kata arwah 1. “Aku mau ke sebuah tempat yang memasak banyak makanan untuk sembahyang arwah-arwah gentayangan. Arwah-arwah seperti kita berdua yang tak ada anak cucu yang menyembahyanginya. Bagaimana? Kamu mau ikut?” tanya arwah 1.
“Iya, mau!” jawab arwah 8. Dia merasa bersyukur tahun ini ada teman baru yang mengajaknya ke pesta hari raya arwah yang diadakan oleh manusia.
“Marilah, kita sama-sama berangkat sekarang!” ajak arwah 1 pada teman-temannya.
Arwah 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 pun sama-sama bergerak melayang-layang di jalan, melakukan perjalanan ke tempat tujuan masing-masing.