“Hei, anjing! Ada apa denganmu? Berengsek ya, kamu, telah menyakitiku. Kalau kamu punya nyali, ayo temui aku secepat mungkin.”
Hatiku berdesir. Tak ada kemarahan. Aku senang ada seorang yang berani memaki-maki. Menantangku, dan juga tanpa pengantar basa-basi yang hanya menambah sesak dadaku. Kubiarkan pesan itu tak terjawab.
Pikiranku kembali melambung di antara langit-langit kamar.
“Hei, lelaki lemah. Aku tahu kamu sudah membuka pesanku. Kenapa? Kamu takut menemuiku, berengsek?”
Kembali perempuan itu mengirimiku sebuah pesan. Belum sempat kubaca dengan tuntas, ada serentet pesan menyusul darinya yang berisikan makian-makian. Yang lebih mengherankan, katanya, aku telah menyakitinya beberapa waktu belakangan ini. Menyakiti? Aku telah berdiam dikamar cukup lama, bagaimana mungkin aku bisa menyakiti seseorang. Sungguh dunia ini tanpa kompromi, bahkan seorang yang berdiam diri di kamar bisa menyakiti orang lain. Aku tersenyum. Aneh, baru kali ini aku bisa tersenyum lepas setelah enam bulan mengurung diri di kamar. Tersenyum karena ada orang yang memaki-maki. Benar memang kata temanku, aku sudah gila.
“Aku tunggu sore ini di kedai tempat pertama kita berjumpa. Temuilah aku sebentar. Kalau nanti kamu mulai tak nyaman berbincang denganku, tulislah sebuah pesan wasiat kematian. Aku yang akan membunuhmu.
Orang sepertimu tak layak hidup, hanya kematian yang akan membuatmu tenang.”
Baru kali ini ada orang yang berani memaki, mengancam, sekaligus menasihatiku. Hidupku kembali bergairah sejenak. Aku bersiap menemuinya.
Beberapa bulan ini, aku tidak bisa bekerja dengan cukup baik. Setiap kali aku menjahit, selalu saja jarum itu menusuk ibu jari. Sakit. Sudah tak terhitung berapa kali aku membuka dan menempelkan kembali perban di jari-jariku, dari jempol, telunjuk, sampai kelingking telah terluka oleh tusukan jarum.
Setiap kali aku melakukan aktivitas, selalu saja ada gangguan. Ketika memasak, minyak goreng yang telah panas oleh api, muncrat mengenai lenganku. Sakit rasanya. Aku berhenti memasak. Kemudian aku melakukan hal lain. Ketika aku berkebun, sekadar menyirami tanaman di halaman rumah, kakiku tertusuk duri semak belukar yang kulewati.
Bedebah memang, dia telah mengusik hidupku!