Ada wajah lelaki yang tak begitu kukenal muncul di dalam lamunanku. Ia yang telah melakukan semua ini. Mengganggu hidupku. Menusukkan jarum, duri, dan menyiramkan minyak panas ke tubuhku. Aku akan membuat perhitungan denganmu.
Aku mendatanginya di sebuah kedai kopi yang cukup sepi. Ia duduk di pojok, dengan penerangan yang temaram, seperti ingin mengajak berbincang dengan rahasia. Kudatangi ia dengan langkah mantap.
Tanpa disuruh, aku duduk. Memesan secangkir kopi. Menyalakan rokok. Diam. Semua terdiam beberapa menit tanpa percakapan. Matanya tajam menatap mataku, masuk sepenuhnya. Aku merasa ada benda asing memasuki tubuhku merobek-robek jantungku. Dadaku sesak.
Cukup. Cukup, kataku. Aku memberikan isyarat padanya agar dia berhenti menatapku. Lebih baik segera siapkan pisau tajam atau pistol dengan peluru tajam dan kemudian tembuslah badanku dengan alat pembunuh itu. Aku akan mati dengan segera tanpa rasa sakit.
Seperti mengejek, ia tak juga melepaskan pandangannya. Kemudian tersenyum. dan keluarlah rentetan kalimat dari mulutnya.
Perempuan itu usianya lebih tua dariku. Mempunyai sikap yang sangat tenang. Meski kata-kata yang keluar dari mulutnya pasti disertai makian, aku suka mendengarnya.
Dengan percaya diri ia memberedel semua kehidupanku. Peristiwa itu ia buka lebar. Luka-luka yang belum kering di hatiku, ia sayat lagi. Terus dan terus begitu sampai aku nyaris muntah.
Perempuan itu mulai bercerita. Katanya, ada seorang lelaki yang telah kehilangan daya hidupnya. Kehilangan jati dirinya. Menjadi lelaki lemah tak berdaya, seperti mayat tanpa jiwa. Mungkin, hanya kematian yang sanggup membebaskannya dari penderitaan, atau lebih tepatnya dari kepengecutannya menghadapi hidup di dunia yang tak kenal kompromi.
Ia seorang seniman, lebih tepatnya orang yang selalu mencoba membuat karya seni. Karyanya bagus, setidaknya menurutku. Ia membuat dan terus membuat sampai suatu ketika, ia memutuskan untuk memamerkan karyanya kepada khalayak. Persiapan mulai dilakukan.
Ia menghubungi beberapa teman seniman. Meminta bantuan untuk memberikan masukan apakah karyanya layak untuk dipamerkan. Semua setuju. Semua terkesima oleh karyanya yang cukup bagus. Satu per satu persiapan mulai dilakukan.