Ibu dirundung muram. Ayah, ah, aku malas membicarakan ayah. Ia seperti hantu yang kadang ada di rumah, kadang entah ada di planet mana. Ibu dan ayah suka bertengkar. Tapi mereka bertengkar tanpa mengeluarkan suara. Mata merekalah yang bertengkar. Cahaya di mata keduanya seperti tidak bisa bertemu untuk menerangi ruangan di dalam rumah.
Suatu ketika, seperti biasa ayah tak ada di rumah, tapi tak seperti biasa, semenjak itu ia tak pernah lagi ada. Aku tinggal berdua dengan ibu. Semakin hari aku lihat ibuku semakin tak pernah berbicara. Cahaya di matanya juga lenyap entah ke mana. Mungkin cahaya itu memburu musuhnya. Ibu ada bersamaku, tapi cahaya matanya menghilang, pasti ayah telah mengambil cahaya itu. Dunia yang aneh. Waktu memang berlalu; aku bersekolah, bermain, menangis, jatuh sakit, bertambah besar, melihat kenyataan, lalu menua. Tapi aku tak pernah sungguh-sungguh mengalami semua itu.
Suatu hari ibuku tiba-tiba tak bisa berjalan. Seluruh peristiwa pelan-pelan seperti terhapus dan aku kembali menjadi seorang anak kecil yang sedang memegang es krim. Rasanya pertemuan denganmu baru saja berlangsung tadi pagi dan malamnya ibuku sudah terbaring di dipan seperti seekor penyu tua yang terdampar di pantai. Aku ingin mencari kakakku. Aku ingin mencari ayahku. Mungkin kakakku berdiam di dalam pohon tempat ia pernah menorehkan gambar hati dan menuliskan namanya dan nama seseorang yang tidak kukenal. Mungkin ayahku berdiam di mata ibu, masuk jauh ke dalam rongganya hingga tak bisa dilihat lagi. Tapi pohon itu sudah ditebang dan mata ibu tak pernah lagi terbuka selamanya. Mustahil aku bertemu dengan ayah dan kakakku. Dan karena ibu hanya berbaring saja dengan mata terpejam, ia takkan marah lagi padaku kalau aku membiarkan lelehan es krim menyentuh punggung tanganku. Ia juga tidak akan marah kalau aku berikan es krim padamu.
Aku akan kembali ke toko kue, membeli es krim dan memberikannya padamu. Kamu masih di sana, bukan?
Boneka Ibu
Ibuku sebuah boneka. Suatu ketika ayah membawanya dari kota. “Ini ibumu,” katanya singkat. Ibu mengedip-ngedipkan mata. Rambutnya pirang terang, kulitnya cokelat kekuningan. Aku memeluk ibu dan ia tertawa geli. Kadang kuajak ibu berjalan-jalan. Setiap bertemu orang segera kupamerkan. “Wah, cantik, kulitnya halus sekali, bulu matanya lentik,” ucap seseorang. Yang lain berdecak kagum, apalagi ketika mencium harum kulit ibu. Aku senang sekali. Setiap hari kubawa ibu ke sana-kemari.