Karena rasa bosan itu, aku mulai berjalan lagi membawa ibu. Mula-mula ke tempat-tempat sekitar, tak jauh dari rumah. Tapi makin hari makin jauh, meski aku selalu ingat untuk pulang sebelum ayah pulang entah dari mana. Aku takut diketahui ayah.
Suatu hari, aku tak tahu jalan kembali. Rupanya, karena terlampau riang, aku dan ibu berjalan sampai ke dalam hutan. Tanpa kuduga, petang tiba-tiba membentang. Burung-burung siang pulang, kelelawar dan serangga malam ke luar sarang. Cahaya lebih cepat sirna karena daun-daun menyerapnya. Aku jadi takut. Aku takut ayah akan marah lagi. Aku takut diculik. Aku takut ibu mati, seperti kata ayah. Apalagi ketika kabut turun dengan lembut, pandanganku samar hingga tak kulihat lagi di mana ibu berdiri. Aku seru berulang kali, “Ibu, Ibu, Ibu…!” Tapi hanya gema suaraku berkumpul dan saling memantul.
Malam tiba. Gelap paripurna. Aku gemetar mendengar suara anjing hutan. Hampir menangis, aku mencari ibu. Sambil memanggil-manggil, tanganku meraba-raba sekitar. Meski sudah berjalan pelan, tetap saja kakiku terantuk batu atau selintang kayu. Ibu tak menyahutku. Rasa sedih menjalar seperti akar, kecemasan bergoyang di sekitar. Lalu kudengar suara seutas suara memanggil namaku.
Itu pasti suara ibu. Benar, itu pasti suara ibu. Dari balik pohon besar ada kulihat cahaya memancar. Seorang perempuan keluar. Itu memang ibu, hanya saja kelihatan sedikit berbeda. Sekarang ibu tak lagi kaku. Tubuhnya lentur seperti penari yang pernah kulihat di televisi. Ibu menghampiriku. Dari rambutnya tercium aroma wangi. Pelan-pelan aku merasa tenang kembali; ibu sudah kutemukan, kini, aku bisa pulang. Kupeluk ibu, tapi ia tak tertawa geli seperti biasa. Aku ragu-ragu, benarkah ini ibu? Kulepaskan pelukan. Wajah perempuan itu seperti tak kukenal. “Kau bukan ibuku!” kataku berseru. Senyumnya terlepas, pancaran cahaya dari kulitnya seperti terkelupas. Aku merasa ngeri. Tak bisa kutahan kakiku untuk lari. Tapi, yang terjadi, aku hanya bisa mengayunkan kaki tanpa bisa maju. Kupercepat ayunan kaki, tetap saja aku tak bisa maju. Aku semakin ngeri. Tenagaku nyaris habis. Aku menangis sejadi-jadinya. Gerakanku kian lambat dan berat, hingga tak sanggup lagi bergerak. Aku jatuh tergeletak.
Saat itu kudengar suara manja seorang bocah, yang mirip suaraku sendiri, berkata hampir menangis, “Ayah, ayah, bonekanya mati….”
(Kekalik, 2017-2019)
Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Tokoh Seni Tempo 2018 bidang puisi untuk buku Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018).