Kalau aku sudah cukup besar untuk sekolah, aku pasti akan membawa ibu ke dalam kelas. Tapi, kata ayah, aku masih terlalu kecil. Teman-temanku yang setiap pagi berangkat sekolah lewat depan rumah sering berhenti sejenak, melihat aku dan ibu bercengkerama. Mereka ikut tertawa ketika kupeluk ibu dan ia tertawa geli. Aku senang sekali.
Karena semua orang di sekitarku sudah tahu, aku ajak ibu ke tempat lebih jauh, bajuku sampai kotor oleh debu yang diterbangkan angin ketika aku berjalan. Tapi ibu tetap tersenyum dan tertawa-tawa geli setiap kali kupeluk. Tempat itu ramai, jalanannya lebar, gedung-gedungnya menjulang. Ada jembatan di atas sungai yang airnya keruh. Banyak anak-anak sepantaranku bermain di sana. Aku menghampiri mereka, duduk tak jauh dari tepi sungai. Aku ingin anak-anak itu melihat ibu, lalu seperti orang-orang lain, mereka akan terkagum-kagum dan memuji kecantikannya. Namun, rupanya mereka tak tertarik. Mereka lebih asyik bermain air, entah apa enaknya main di air keruh begitu, yang jelas mereka bahkan tak melirik sedikit pun padaku. Meski telah kupancing-pancing dengan memeluk ibu erat-erat sehingga ibu terus tertawa-tawa, anak-anak itu tak juga mengalihkan perhatiannya padaku. Karena bosan, aku pergi dari tempat itu. Aku berjalan di depan barisan pertokoan sembari memamerkan ibu pada setiap orang. Di depan sebuah toko kue, aku melihat seorang anak laki-laki menyodorkan es krim pada seorang anak perempuan berambut kusut yang mengenakan pakaian kumal. Aku mau memamerkan ibu kepada mereka, tapi seorang perempuan tiba-tiba keluar dari dalam toko dan menarik lengan anak laki-laki itu agar menjauh. Aku jadi takut. Muka orang-orang di sini tampak kusut seakan ada cacing yang menggerogotinya. Bahkan, seseorang menyuruhku pergi ketika di depan deretan etalase kaca aku melihat banyak orang berdiri diam mengenakan macam-macam pakaian. Aku memamerkan ibu pada orang-orang yang diam itu, tapi tak ada reaksi apa-apa, bahkan mereka tak bergerak sedikit pun. Ketika kudekatkan ibu pada kaca etalase, saat itulah seseorang itu keluar dari dalam toko dan menyuruhku pergi.
Ayah marah-marah ketika aku pulang. Dua sabetan sabuk kulit cukup membuat betis dan wajahku panas. Di betisku tercetak dua garis kemerahan dan di wajahku tumpahan air mata membuat debu-debu basah dan luntur, mengotori kulitku. “Kecil-kecil ngapain main jauh-jauh? Untung kamu tak diculik. Main di rumah saja, ibumu bisa mati kalau kamu ajak main jauh-jauh!” seru ayah. Aku tidak mau diculik, juga tidak mau ibu mati. Jadi aku menurut. Beberapa hari aku diam di rumah. Berdua saja dengan ibu. Tapi lama-lama aku bosan juga. Lagi pula, sejak ada ibu, anak-anak di sekitar rumah seperti malas bermain denganku. Mereka juga tidak lagi mengagumi dan memuji kecantikan ibu. Sementara ibu tetap saja tertawa-tawa setiap kupeluk.