Tak peduli pada anak-anaknya—bahkan pendidikan anak-anaknya, karena ia hanya merasa jemu di tengah ladang tebu, serta, seperti semua lelaki di kampung: ia menghibur diri dengan bersantai dan membius diri, dengan ketegangan judi, mabuk, selingkuh, serta utang yang meningkat meski punya gaji—sehingga beberapa tanah yang jauh dijual untuk menutup hutang. Standar semua kelurga di kampung kami. Melulu mengibur diri—si yang bertransmigrasi, mendapat bagian tanah, kembali lagi setelah menjual tanah itu dan jadi si yang tidak bertanah dan tidak berumah di kampung, karena tidak cukup liat buat merintis bertani, karena sejak kanak terlalu sering menganggur Menyedihkan—seperti yang dikutuk untuk miskin dan malas serta melulu hanya ingin bersantai. Mengerikan.
***
SEPERTI yang telah disinggung, itu membuat Genah rikuh. Ia telah terbiasa hidup di Surabaya, berkerja agar mendapat uang dan lihai belanja— karena sudah teralu sedikit tanah yang bisa digarap buat bertani, dan ia tak terbiasa dengan laut dan budaya berniaga ikan di dermaga. Dan menjadi bingung ketika sampai di kampung kami dan tidak pernah diberi uang untuk belanja dan kebutuhan dapur, dan melulu dilatih buat meramu—mencari sayur di ladang—: daun muda singkong atau ketela, pucuk beluntas, bunga tui muda, dan seterusnya—, serta menambahkan sambel untuk teman nasi dan sayur itu, dengan sesekali menapat protein hewani bila ada uang.
Tidak ada uang di kampung, tidak begitu banyak yang diperdagangkan di kampung, dan melulu hanya meramu—atau ngutang di warung. Genah tak terbiasa. Itu membuatnya mengalami gegar kebiasaan, agak tertekan dan sangat tegang secara psikologi. Kecenderungannya bicara keras dan kasar Surabayan, mendadak membelok jadi teriakan memaki dan menggerutu. Ia minta uang dan biaya belanja kepada Pancen, yang tak begiu peduli dan terbiasa beli kopi dan nasi pecel saat sarapan, dan di malam hari ia juga beli kopi dan makan pecel lagi—melulu mencari protein dari tahu atau tempe, dan peyek teri. Rutin tak begitu percaya pada rumah, kewajiban rumah tangga, serta punya anak serta istri. Santai dan abai selama ada duit dan bisa berkumpul dalam kerumunan, serta berjudi atau minum —bila tak ada uang ya mengutang,lantas jual tanah. Manja karena terbiasa santai.
Dan kondisi itu yang membuat Genah nekad melakukan tindakan menyimpang, ketahuan, dan ditangkap polisi—bahkan divonis. Dan kami tahu: apa penyebab itu, dan kami mengerti bahwa tingkah laku dan kebiasaan Pancenlah yang membuatnya melakukan improvisasi dan tersesat—tapi kami sangat mengakui keberaniannya, juga kami tak bisa menyalahkan Pancen—seperti kami sangat bisa memaklumi tindakan Genah, karena mana mungkin menyalahkan kebiasaan, adat dan tradisi lelaki di te ngah ladang tebu yang khas kampung kami—jauh di pedalaman. Pada titik pertigaan serta kemenyimpangan agar tidak langsung ke tujuan utama. Dan seperti yang telah dikatakan, kami ini dikutuk miskin dan malas. Mengerikan sekali.
***