Gimor

Di dalam rumah, dia melihat seorang wanita tertidur di atas kursi rotan. Tiba-tiba hatinya terhenyak kala melihat wanita itu tertidur pulas. Wajahnya memudar, segenggam air mata tumpah membasahi pipinya. Dia tidak kuat melihat istrinya mengalami penderitaan yang sangat menyayat batinnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya berdoa meminta pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

Sejenak dia mengelus kening istrinya. Tak lama dia terbangun dan melihat Gimor berada tepat di hadapannya. Dia terkejut melihat suaminya menangis tersedu sedan.

“Bang, kau kenapa?” tanya istrinya.

“Aku tidak apa-apa, Dik.” Gimor menjawab singkat sembari mengelus lembut pipi istrinya.

“Tapi, kok Abang mendadak menangis begini.”

“Abang sedih, bagaimana caranya Abang bisa menyembuhkanmu. Aku tak sanggup melihatmu menderita seperti ini.”

“Sudahlah, Bang jangan bersedih lagi. Semua ini harus kita jalani dengan sepenuh hati. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja.”

“Iya, Dek. Abang harap semuanya akan baik-baik saja.”

Dia memeluk istrinya dengan erat. Air matanya semakin deras tumpah di pipi. Segala cara dia tempuh demi kesembuhan istrinya.

Lina, istrinya yang dia nikahi lima tahun silam mengidap penyakit kanker rahim. Penyakit di mana Lina tidak bisa mengandung anak. Seperti dihantam badai, hati Gimor dan Lina menuai luka yang teramat tajam. Lina sekuat mungkin tegar menghadapi kenyataan meskipun sesekali terbesit di hatinya bersedih tidak bisa merasakan nikmatnya mengandung.

Setiap malam sehabis menunaikan perintah Tuhan, Lina terus merangkaikan doanya ke langit. Dia ingin penyakit yang dia alami bisa disembuhkan dan bisa dikaruniai seorang anak.

***

Fajar menyapa. Gimor baru saja selesai mengasah parang di depan rumah. Saat dia menyiapkan peralatan pekerjaan, Inang datang menghampirinya. Di sana Inang ingin menyampaikan sesuatu kepada Gimor. Dia tidak tahu, tapi melihat raut wajah Inang yang datar sepertinya ini keadaan genting.

“Gimor. Inang mau ngomong sama kau,” cetus inang.

“Mau ngomong apa, Inang?” Gimor lekas berdiri dan menghentikan sejenak pekerjaannya.

Arsip Cerpen di Indonesia