Gimor

Inang terus menatapi Gimor. Inang sangat gelisah di hadapan Gimor apalagi saat ini anaknya diterpa badai permasalahan. Demi kebaikan anaknya, inang kembali membuka perbincangan dengan Gimor.

“Gimor. Inang ingin sekali menggendong cucu. Sudah lima tahun setelah pernikahanmu Inang belum juga punya cucu.”

“Iya, Inang, aku tahu. Inang lihat sendiri keadaan si Lina. Aku enggak bisa memaksakan kehendak Inang.” Ujar Gimor.

“Kenapa kau tidak kawin lagi ? Supaya kau bisa mempunyai keturunan?” inang menyarankan Gimor untuk kawin lagi.

“Oi mak jang, Inang. Aku tidak mau. Aku sangat sayang sama si Lina.” Gimor terkejut mendengar ucapan inang.

“Kau lihatlah dia sampai sekarang belum juga dikasihnya aku seorang cucu.”

“Inang, bersabarlah. Suatu saat jika dia sudah sembuh pasti dia akan memberikan seorang cucu sama Inang.”

“Iya, tapi kapan!”

“Inang bersabarlah.”

“Kusuruh kau nikah lagi kau tidak mau. Kau pilih istrimu apa inangmu sendiri! Sudahlah, aku pergi saja dari sini.” Inang pun pergi meninggalkan Gimor.

Gimor tidak sanggup untuk meninggalkan istrinya. Baginya, Lina adalah seorang wanita yang kuat dan sabar. Sanggup menghadapi permasalahan hidup. Itu sebabnya Gimor tidak kuasa meninggalkan istrinya. Bagi dirinya harta yang paling mulia adalah istri yang saleha.

Di luar semua pikiran Gimor, Lina tiba-tiba datang. Berderaikan air mata, Lina menyampaikan sesuatu hal. Gimor heran melihat Lina datang dengan membawa air mata.

“Bang, ada yang mau adek sampaikan sama Abang.” Cetus Lina.

“Iya bilanglah, tapi, kau kenapa menangis lagi?” Gimor mengusap air mata Lina yang membanjiri pipinya.

“Aku merestui jika Abang kawin lagi. Aku tahu kalau tak akan bisa memberikan anak untukmu juga untuk Inang.” Air matanya pun bercucuran, mendung sudah tiba di wajahnya.

“Kawin lagi? Haha…, tak mungkinlah aku kawin lagi. Satu saja sudah cukup bagiku untuk menemani waktu hidupku yang tersisa ini.” Gimor tertawa mendengar ucapan Lina.

“Bang, aku tidak enak hati sama Inang.”

Arsip Cerpen di Indonesia