Gimor

“Sudahlah, Dek. Jangan kau dengarkan perkataan Inang. Yang terpenting kau akan selalu ada untukku.” Gimor mencium kening Lina dan tersenyum mengisyaratkan bahwa Gimor tak akan pergi meninggalkan Lina.

Lina mendengar percakapan Gimor dengan inang. Gegara percakapan itu, Lina mendadak hatinya terhenyak, tertimpa kata-kata dari inang barusan. Teruntuk pada impian sang mertua ia rela kalau Gimor menikah lagi.

Gimor kembali masuk ke rumah untuk mengambil beberapa peralatan kerja. Lina bediri memperhatikan suaminya keluar masuk rumah. Selang beberapa saat, inang datang ke rumah Gimor. Kedatangannya membawa hawa panas.

“Gimor! Gimor! Eh Lina mana si Gimor?” Inang membentak Lina yang sedari tadi berdiri.

“Ada di dalam Inang.” Lina menunjuk rumah.

“Kau panggil dia sekarang juga.”

“Iya, Inang.”

Lina bergegas masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah Lina memanggil Gimor. Gi­mor menyahut panggilan Lina di dapur. Lina mengatakan bahwa inang lagi marah-marah di luar rumah. Juga dia mengatakan bahwa inang mau bicara sama Gimor. Sekejap Gimor dan Lina keluar menghampiri inang.

“Gimor! Sekarang juga kau harus menceraikan si Lina.” Inang langsung bicara ke inti percakapan.

“Apa! Cerai?” Hati Gimor langsung terhentak.

“Iya cerai. Kalau tidak Inang yang akan menceraikan kalian berdua.”

“Alasannya kenapa Inang? Sampai-sampai Inang menyuruhku menceraikan si Lina.”

“Kau tahu, Gimor. Si Lina ini dulunya wanita penghibur. Inang tahu seletah beberapa tahun yang lalu. Si Ucok menyampaikan kebenaran ini. Dia ini wanita tidak baik, Makanya dia kena penyakit kanker rahim. Cepat kau ceraikan dia, Gimor.”

Langit tiba-tiba gelap. Petir silih beganti menyambar semesta dan angin berhembus kencang menyapu dedaunan kering. Hujan turun, teramat deras. Sekonyong-konyong air tumpah ke wajah Gimor yang sedang tertidur di pondok.

Gimor terbangun, dia menatap sekitar. Beruntung yang terjadi hanyalah mimpi yang hampir saja menjadi kenyataan. Dia tertidur setelah mengobatinya kakinya yang bengkak dan terbangun kala petir bersuara.

Arsip Cerpen di Indonesia