Proyek Pencabut Nyawa

Berhari-hari ia harus merakit fakta-fakta dan mengarang cerita seorang penguasa yang kini mencalonkan diri kembali sebagai presiden adalah pendukung gerakan partai setan yang membut pengikutnya meringkuk dalam penjara. Apakah Hamid bakal ikut juga ke penjara?

Ia meremas kepalanya. Tenggat waktu yang mendesak tak membuatnya bisa melanjutkan satu kata pun. Di kepalanya hanya terbayang uang 100 juta dan tiket pesawat luar negeri yang akan ia kunjungi seusai menyelesaikan proyek buku ini.

Di satu siang terik, Hamid sudah merasa gerah. Ia butuh satu teguk kopi. Sudah lima hari ia tidak mengopi. Uang di sakunya terus dihemat untuk bisa hidup setidaknya tiga hari ke depan. Tidak ada uang DP dari proyek buku ini.

Dari arah gedung yang lain, suara handy talky tampak mengganggu seseorang. Lubang peneropong berusaha difokuskan ke sebuah pintu kamar. Lelaki dengan ikat tali warna hitam bertuliskan ‘Tuhan Harga Mati’ itu terus-menerus diganggu suara-suara dari jauh: pastikan orang itu mati, kau akan kami bebaskan. H harus lenyap. Seseorang menyebut inisial sebuah nama.

Hamid membuka pintu kamar. Ia sudah tak sabar harus menghilangkan sakit kepalanya dengan aroma kopi. Pekerjaan ini teramat brengsek! Gumamnya.

Hingga tiba-tiba dering ponselnya berbunyi. Bergetar dari saku celana. Dilihatnya layer ponsel. Hamdan memanggil. Hamid heran.

Diangkatnya ponsel itu, lalu terdengar suara Hamdan. Ketika suara ‘Halo’ terucap dari mulut Hamdan, tiba-tiba suara terdengar suara mengerang. Seperti menahan sakit. Suara itu membuat Hamid bergidik.

“Halo, Hamdan, ada apa? Ada apa, Hamdan? Kau kenapa?”

“Hamid, cepat sembunyi! Segera lari dari tempatmu. Ada yang menembakku,” Hamid tidak mengerti apa yang terjadi.

Dari tempat yang jauh, Hamdan terus memberi perintah seraya rubuh di tempatnya berdiri.

Akkhh, Hamid, cepat kau lari dari situ!”

Gila, ada apa ini? Hamid mematung lama. Ia berpikir keras. Ada apa sebenarnya? Pikirannya kacau. Udara siang jadi makin terik dan membakar. Apa yang ia pikirkan belakangan ini benar terjadi. Risiko yang sudah ia bayangkan sebelumnya.

***

“Jadi, ini adalah cara agar presiden jatuh dari kekuasaannya?” Hamid menyeruput kopi panas yang baru saja dipesannya.

Arsip Cerpen di Indonesia