Suara Hamdan terngiang lagi. Ia sudah berjalan beberapa langkah dari pintu kamarnya di lantai dua. Ia seharusnya tahu uang 100 juta tidak ada apa-apanya daripada menantan mau di tangan penguasa itu.
Hamid melangkah kembali masuk ke kamarnya. Ia memang harus pergi. Ia memercayai Hamdan.
Kakinya sampai di depan pintu. Tangannya merogoh saku celana dan membuka kunci pintu. Hingga tiba-tiba terdengar desing peluru dari kejauahan. Itu suara-suara ramai orang dari pasar tak jauh dari tempat kosnya. Suara-suara teriakan histeris makin jelas terdengar. Orang-orang berlarian.
“Presiden tertembak, presiden tertembak…”
Hah, apa? Ada presiden datang di dekat sini?
“Presiden tewas terbunuh…”
Suara-suara itu makin jelas terdengar. Presiden tertembak?
Dari tempat yang jauh, Penembak Misterius membereskan kembali alatnya. Ia sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Musuh negara harus ditumpas.
Hamid berusaha menelepon kembali Hamdan. Nomornya tidak aktif. Aduh, ada apa ini sebenarnya?
Penembak misterius itu melepas jaket hitamnya. Ia mengganti kostumnya seperti orang kebanyakan. Ia kenakan kemeja, sedikit parfum disemprotkan ke badannya. Tugas selesai.
Baru saja ia ingin melepas ikat hitam di kepalanya. Ponselnya berdering. Dilihatnya sebuah pesan pendek.
Hamdan, ponselmu tidak aktif. Aku meneleponmu berkali-kali. Temui aku di kedai kopi biasa.
Ia melepas ikat hitam di kepalanya lalu melipatnya sampai tulisan ‘Tuhan Harga Mati’ yang tertera di atasnya tak kelihatan lagi.
“Aku harus segera temui Hamid,” ujarnya lirih. ■
Restu A Putra lahir di Jakarta, 31 Desember 1985. Belajar menulis di FLP Bogor. Sebelumnya sempat belajar sastra di Majelis Sastra Bandung (MSB) dan mendirikan Komunitas Rumput. Saat ini tinggal di Bogor bersama keluarga.