“Ya, tentu. Kau tahulah bagaimana seharusnya propaganda itu bekerja. Proyek ini sebagaimana proyek bawah tanah ditargetkan menyasar kepada orang-orang yang apatis dengan negara ini. Kita tidak bisa mematahkan keberhasilannya, maka kita hancurkan sosoknya.”
“Waduh, waduh, sulit buat menolak, tapi berat juga untuk diterima.”
“Sudahlah, kau tidak perlu banyak berpikir. Semua bakal aman. Tidak ada yang tahu dan mengenalmu kok. Sengaja aku memilih kau untuk mengerjakan proyek ini karena kau orang baru.”
“Okelah. Terus, apa yang mesti aku lakukan?”
“Yang paling utama, kau harus segera pindah dari kontrakanmu dan cari tempat kos kecil di tempat yang tak biasa.”
“Oh ya, ngomong-ngomong ke mana saja kau baru sekarang muncul di hadapanku?”
“Hahaha, panjang ceritanya. Nanti saja. Aku mesti bertemu kolega lagi di tempat lain.”
Hamdan beranjak dari tempat duduknya. Kedai kopi ini benar-benar tidak ada pelanggan lagi selain aku dan dia. Hamdan rupanya paling tahu kapan kedai ini sepi dari pengunjung.
“Jangan lupa, besok lusa kabari aku tempat kosmu yang baru. Data-data yang kau perlukan akan aku bawa ke kosmu. Nanti aku ceritakan lagi soal proyek ini.”
“Baiklah.”
Kepala Hamid masih dipenuhi banyak pertanyaan soal pekerjaannya ini. Termasuk risiko yang bakal ia terima dari proyek ini. Adakah yang lebih berbahaya dari jiwa yang terancam.
Pertemuan itulah yang membuatnya selalu merasa ada moncong senjata mengintainya. Hamid termasuk lelaki lurus yang tak mengenal dunia politik. Namun, ia tahu ancaman apa yang mesti dihadapi dari penguasa yang dengan kuat mencengkeram kursi kekuasaannya.
Dan mengerjakan proyek ini seperti menggali liang kubur bagi kematiannya. Kecuali dewi fortuna berkata lain.
“Darah kita ini berharga jika pun mati, Hamid. Seberapa lama kau menderita dengan kemiskinan karena ulah kekuasaan yang tidak kau sadari itu, Hamid? Aku berjuang demi rakyatku ini. Segalanya mesti kita lakukan. Mereka harus dijatuhkan, Hamid.”
Suatu ketika, Hamdan dengan menggebunya berkata padaku saat pertama kali ia bertemu denganku setelah sekian lama menghilang.
Dan kini aku mesti bersiap untuk sesuatu hal yang mungkin terjadi.
***