Kami mempunyai toko kelontong kecil di depan rumah. Selain menjual barang-barang kebutuhan pokok, Ibu juga menjual batik dan beberapa produksi kerajinan tangan. Ibu-ibu penghuni kompleks perumahan banyak yang menjadi pelanggan. Terkadang Ibu menerima pesanan seragam ibu-ibu pengajian atau arisan. Namun toko tak lagi buka dalam beberapa tahun terakhir.
Tepat pukul lima sore kereta reguler datang dan berangkatlah kami bersama para penumpang yang berjubel. Untuk 60 menit ke depan, aku mesti bersabar dengan ketidaknyamanan di dalam kereta ini. Pada dua lembar tiket tertera tulisan bahwa penumpang berdiri atau tanpa tempat duduk. Itu artinya aku tidak boleh protes jika kami tidak mendapatkan kursi. Maka yang terbayang di kepalaku nanti adalah bagaimana caranya supaya aku bisa mencari celah sedikit saja di kursi penumpang lain, agar Ibu mendapat tempat duduk yang nyaman.
Ups! Kata Ibu, tidak boleh banyak mengeluh. Aku hanya membatin, dan kubiarkan kakiku terinjak oleh petugas kontrol karcis. Sesekali troli yang berisi jajanan dan didorong oleh dua orang pelayan meminggirkan posisi dudukku. Aku duduk di lantai beralaskan kertas koran. Ibu kubiarkan duduk di kursi, dekat pintu. Ada seorang penumpang yang berbaik hati dan memberikan tempat duduknya kepada Ibu.
Sya-la-la-la, aku bernyanyi di dalam hati. Sesekali memang harus kunikmati kepenatan ini. Kupangku sebuah buku yang tertunda kubaca. Buku how to setebal 120 halaman, yang akan kuharapkan selesai sekali baca dalam perjalanan ini. Mungkin kecepatanku membaca sama dengan kecepatan penulis buku ini untuk mencari referensi di internet. Uupps! Aku salah, Ibu lebih banyak mengajakku mengobrol di dalam kereta dan bacaanku terbengkalai.
“Sudah lama juga, ya, Ven, kita nggak pergi naik kereta berdua seperti ini. Terakhir kali saat kamu kelas 6 SD,” pembicaraan Ibu membuyarkan lamunanku. Kulihat di jendela, kereta baru saja melumat jembatan di atas kali.
“Tiga tahun ada?” tanyaku.
“Iya, sejak peristiwa itu,” jawab Ibu. Hmmm… mungkin ini alasan Ibu mengajakku pergi naik kereta. Dia hanya ingin bernostalgia. Padahal, sudah puluhan kali aku berusaha mematikan rasa ketakutan Ibu, trauma atas kejadian yang pernah menimpanya. Dan sore ini, lalu senja nanti yang beberapa menit lagi ke depan, akan bisa kusaksikan wajah Ibu semringah. Kota Solo berada di belakang punggungku.
“Bukankah ketakutan itu mesti dihilangkan?” begitu kata Ibu saat kereta kami singgah di Stasiun Klaten. Masih setengah perjalanan.