SUARA laju kereta diiringi derit bunyi rem membuat aku dan Ibu hening. Beberapa penumpang tidur. Ada yang membaca buku sambil terkantuk-kantuk. Sepasang remaja cekikikan sambil masing-masing menutup mulutnya. Takut gurauan mereka mengganggu penumpang lain.
“Ini sedang musim panenkah?” tanya Ibu. Tahu saja dia, bila kereta melewati persawahan.
“Iya, Bu. Hamparan padi sudah menguning. Siap untuk dipanen,” jawabku.
“Banyak burung pipit, ya, di senja seperti ini?” tanya Ibu lagi.
“Ada beberapa yang Venny lihat,” jawabanku tampaknya memuaskan Ibu.
“Sayang sekali, suaranya tidak terdengar,” Ibu sangat naif. Ah, Ibu, mana mungkin kita bisa mendengar suara burung pipit di tengah deru mesin kereta api dan bunyi gesekan antara roda dan bantalan rel, aku membatin. Seorang penumpang berbicara dengan penumpang lainnya bahwa Stasiun Maguwo akan sampai dalam beberapa menit lagi.
Ibu mendekap erat tas di pangkuannya. Ada getaran yang menghebat dan sangat kentara. Tiba-tiba wajah piasnya memucat. Aku menepuk-nepuk punggung Ibu dan itu membuatnya cukup tenang dalam beberapa menit.
“Kita turun di mana, Bu?” tanyaku.
“Stasiun Lempuyangan,” jawab Ibu tegas.
“Yakin?” tanyaku lagi.
“Berani,” jawab Ibu. Lima menit setelah berhenti di Stasiun Maguwo, akhirnya, sampai juga di Stasiun Lempuyangan.
Kereta berjalan melambat. Ular besi berhenti melakukan perjalanan.
“Akhirnya sampai juga,” teriakan lirih dan hampir berbarengan dengan Ibu. Kugandeng erat tangannya. Lega rasanya bisa menemaninya menginjakkan kaki kembali di stasiun ini sejak kejadian tiga tahun lalu. Peristiwa masa lalu itu adalah kejadian kecelakaan yang menimpa saat tasnya dijambret oleh pencopet yang membawa silet. Ibu sudah berusaha mempertahankan. Lalu benda tajam itu tepat mengenai wajah cantiknya. Dan kedua matanya terluka yang menyebabkan kebutaan total.
Senja di atas kereta kali ini telah mengembalikan cinta Ibu. Kiranya waktu telah berpihak kepadanya. ***
Astuti Parengkuh, penulis, jurnalis. Tinggal di Solo, Jawa Tengah.