Kutoleh Ibu yang tidak melihatku. Wajahnya masih menyisakan paras ayu secantik Dewi Shinta dan setegar Srikandhi. Sedikit warna keperakan yang tumbuh di rambut tak digubris olehnya. Buat apa mikirin uban di rambut. Yang penting kan jiwa dan raga yang sehat, katanya suatu saat.
“Venny siap mengantar kapan pun Ibu inginkan pergi ke Yogya dan naik kereta ini,” kataku merayunya.
“Ha-ha-ha… kau seperti mendiang bapakmu, Ven. Sok baik, sok percaya diri untuk bisa membantu orang lain, merigankan beban orang lain,” kata Ibu. Bapak sosok yang aku kagumi, seorang pekerja keras, pengabdi keluarga dan masyarakat. Bapak meninggal saat bertugas melerai sebuah kerusuhan. Bapak seorang anggota polisi dan profesi itu sangat dibanggakan oleh keluarga kecil kami.
Teringat aku akan sosok Bapak yang sangat baik kepada kami berdua. Bapak yang tak pernah membiarkan aku bermain sendirian di halaman rumah saat hujan deras ketika masa kecliku. Yang pada akhirnya malah Bapak yang menemaniku bermain hujan-hujanan sambil menanam pohon buah-buahan di kebun belakang rumah.
Aih, Bapak. Dia yang selalu menanyakan dan mengingatkan cita-citaku sebagai seorang penerbang. Katanya suatu ketika, “Kamu telah mempunyai modal tekad dan postur tubuh yang mendukung cita-citamu.”
Maka ketika saat ini aku menginjak tahun terakhir duduk di bangku SMP, terngiang kembali cita-citaku untuk menjadi pilot. Aku ingin masuk sekolah penerbangan.
Bapak tahu hobiku suka berolahraga. Bapak juga yang mengajakku masuk ke klub basket terkenal di Solo ini ketika usiaku memasuki bangku SMP. Deretan piala dan piagam penghargaan yang menghias di dalam almari khusus semakin membuat Bapak bangga akan prestasi yang aku torehkan. Tidak hanya sebagai juara di beberapa cabang olahraga, tapi juga prestasi di lomba-lomba akademik.
Bapak jugalah yang memperlihatkan sikap pembelaan ketika suatu hari sebuah peristiwa pertengkaran terjadi saat aku duduk di bangku SD. Aku dipukul oleh kawanku sekelas, lalu kawan itu aku balas dengan pukulan yang lebih keras sehingga bibirnya mengeluarkan darah.
Di luar ruangan, Bapak berbisik lirih kepadaku, jika suatu saat nanti ada lagi kawan laki-laki yang menyakiti aku, Bapak menganjurkan agar aku tidak berteman dengannya. “Atau sekalian kamu tantang, Ven. Bikin dia tunduk kepadamu,” seloroh Bapak sambil tertawa. Untungnya aku tidak termakan gurauannya.
***