“Hai Bu Atika…” sapa Lilis ramah seperti biasanya dengan senyum di bibir. Kebetulan sekali, Lilis sendirian di dalam kelas VI.
Murid-murid sudah melesat keluar.
“Hai…” Atika yang berdiri di ambang pintu kelas balas menyapa. Lalu kakinya melangkah ke dalam. Basa-basi sebentar, lalu mengajak berbincang ke hal yang lebih serius.
“Apa Bu Lilis tahu perihal yang terjadi pada kakak saya?”
Lilis mengeratkan kening, berpikir sebentar lalu menggeleng pelan.
“Malah saya yang gelisah, ya…” Atika tersenyum tipis.
“Soal apa, ya?” Lilis menatap Atika.
“Mmm… kalau kakak saya sama Bu Lilis biasanya terbuka untuk hal apa pun, ya… termasuk masalah pribadi.”
Lilis menggeleng.
“Tidak selalu….”
“Bu Lilis tahu kalau kakak saya sudah ditipu orang?” tanya Atika langsung pada pokok masalah yang membuatnya resah. Atika penasaran siapa yang telah menipu kakaknya. Nuraida tak mau membahasnya dengan Atika yang ketika didesak malah bicara lain-lain dan memancing perselisihan. Bahkan sudah tiga hari ia tak mau menyapa. Setiap bertemu di area sekolah, Nuraida banyak menghindar. Ia tampak tak suka dengan Atika yang seolah mendesaknya berbicara.
Lilis menoleh pada Atika. Raut mukanya sedikit kaget. “Wah, saya baru dengar….”
Atika menepuk jidatnya. Ia sudah terlanjur menceritakannya, ternyata Lilis tak tahu. Namun tak mengapa, justra Atika berharap, dengan Lilis mengetahuinya, maka Lilis bisa mengorek kebenaran itu.
“Ini sebenarya masalah intern….” ujar Atika menyesalkan.
Lilis tersenyum, lalu menepuk bahu Atika. “Tak mengapa, Bu Nuraida sudah saya anggap sebagai kakak sendiri. Mungkin besok-besok ia akan bercerita. Percayalah…”
Atika kembali ke rumah. Kabar bahwa Nuraida terkena tipu itu awalnya dari Galih, anak sulung Nuraida. Dengan detail ia melapor pada Atika. Nuraida sudah menyerahkan uang sejumlah Rp 70 juta sebagai uang muka pengurusan masuk aparatur sipil negara untuk Galih yang tengah tak memiliki pekerjaan tetap, dan untuk adiknya, Gading, yang sudah sepuluh tahun masih menjadi guru honor.