Topeng

Atika resah mendengarnya, apalagi Galih menunjukkan foto di ponselnya, lembar SK ASN untuknya juga adiknya. Dan katanya ibunya meminta kedua anaknya bungkam akan hal itu. SK baru bisa diambil jika sudah menyerahkan sisa uang. Atika geleng-geleng kepala ketika tahu hal itu. Ia bingung dengan kakaknya. Strategi oknum seperti itu sudah bukan rahasia umum. Itu SK bodong!

Lalu selepas magrib, Atika mendatangi Nuraida sambil membawa koran yang memuat berita maraknya SK bodong. Nuraida bukannya percaya dan membuka mata, malah marah pada Atika yang dianggapnya ikut campur. Ia pun marah pada Galih yang mudah menunjukkan sesuatu yang harusnya dirahasiakan dulu. Nuraida bersikeras dengan pendiriannya kalau dirinya tak tertipu, sebab menurut dia, orang-orang yang punya jabatan lebih tinggi darinya juga tengah bergantung nasibnya pada “orang” yang hendak mengusahakannya.

“Selalu jabatan yang Mbak perbandingkan. Apakah karena mereka punya jabatan tinggi… jadi Mbak juga tak merasa sedang tertipu. Ketahuilah Mbak… di zaman edan seperti sekarang, beragam modus penipuan. Dan kadang yang mereka tipu itu bukan orang yang tak punya uang. Mungkin rekan-rekan Mbak orang hebat dalam hal jabatan dan uang, namun mereka itu orang bodoh!!” suara Atika berapi-api.

“Kau berani menyebut orang bodoh!!” mata Nuraida berkilat.

“Kalau pintar… mereka tak akan tertipu!” Atika menutup perbincangan. Jadi, Nuraida tetap berkeyakinan kalau ia tak ditipu. Begitu manisnya Nuraida kalau memberi uang untuk orang lain terlebih untuk kepentingan anak-anaknya. Bukan puluhan juta lagi. Sebab oknum itu kerap datang ke tempat Nuraida menjadi kepala sekolah. Oknum yang itu bukan oknum pertama, tetapi perantara atau lebih tepat suruhan yang sudah mendapat perintah dari Bos untuk mengambil uang dari Nuraida. Sepuluh juta, lima belas juta, berpuluh-puluh sampai totalnya dua ratus tujuh puluh juta rupiah. Namun, SK yang dijanjikan tak kunjung keluar.

Suatu hari Gading dan Galih datang ke kantor pemerintahan di pusat ibu kota. Meyakinkan keabsahan SK yang akhirnya didapat. Orang-orang di kantor itu balik menertawakan karena SK tersebut bodong alias palsu!!!

Nuraida, hanya tertawa. Lantas setelah sadar, ia mengikhlaskan uang sebesar itu. Yang menjadi tempat curhatannya bukan hanya Lilis yang selalu menanggapinya dengan lembut. Namun, Atika juga kerap kali menampung keluhannya. Senyumnya sempat hilang sampai menjelang pernikahan Gading.

Arsip Cerpen di Indonesia