Masjid dekat rumah saya sendiri itu punya jamaah yang banyak. Menurut saya yang terbanyak di antara masjidmasjid lain di daerah saya. Ada beberapa jamaah yang punya rumah di ujung desa tetapi lebih memilih datang ke masjid dekat rumah saya itu, alih-alih ke masjid yang lebih dekat dengan kediamannya.
Bila salat Jumat tiba, jamaah selalu membludak bahkan terkadang masjid tak cukup menampungnya. Saya juga tidak tahu kenapa alasan mereka lebih memilih ke masjid ini. Apakah karena masjid ini besar dan luas? Tentu saja tidak. Masih ada masjid di desa sebelah yang lebih luas dan besar dari masjid ini. Apakah karena desain masjid ini lebih indah? Ah, tidak juga. Entahlah apa alasan sebenarnya. Saya sendiri juga senang salat di masjid ini meskipun rumahku juga dekat dengannya.
Hal yang sama pun terjadi bila sebuah acara keagamaan digelar di masjid itu. Tidak tanggung-tangung, hampir seluruh warga desa datang ke sana. Apalagi jika penceramah yang diundang merupakan kiai kondang. Tak sedikit warga yang datang dari desa yang cukup jauh juga turut bergabung. Ustaz Abidin sendiri selalu tampak bahagia bila banyak warga yang datang. Wajah beliau selalu berbinarbinar memandangi ratusan warga yang memenuhi masjid dan halamannya.
Perihal alasan kegemaran Ustaz Abidin yang menurut saya ganjil itu, sebenarnya pernah suatu kali saya bertanya pada beliau. Mulanya saya takut untuk menanyakan, tetapi lantaran penasaran, saya pun memberanikan diri mengajukan pertanyaan.
“Ustaz, mohon izin, saya ingin bertanya sesuatu,” suaraku sedikit gemetar.
“Tanya apa?” ucap Ustaz Abidin sambil menyulut sebatang rokok.
“Maaf, Ustaz, kalau saya kurang sopan. Eh, saya ingin bertanya soal…. Eh…”
“Ngomong saja. Tak usah takut. Aku tak akan marah,” kata Ustaz Abidin melihat saya ragu untuk bertanya.
“Kenapa Ustaz gemar mengetes suara corong masjid?”
Begitu pertanyaan itu terlontar, dada saya terasa plong. Rasa sesak yang semula meraja mendadak sirna. Namun, malah berganti dengan satu ketakutan dalam hati kalau-kalau Ustaz Abidin tersinggung dengan pertanyaan itu lantas memarahi saya. Tetapi yang terjadi justru diluar dugaan saya. Ustaz Abidin malah tertawa mendengar pertanyaan saya.
“Kamu ini. Aku pikir mau tanya soal agama. Atau ayat-ayat di Al-Quran. Atau hadis juga. Eh, ternyata malah bertanya soal itu,” kata Ustaz Abidin sambil terus tertawa. Aku menjadi rikuh.
“Sebelum menjawabnya, aku ingin bertanya padamu terlebih dahulu,” kata Ustaz Abidin, “kenapa kau menanyakan hal ini?”