Saya sendiri, semenjak tak ada Ustaz Abidin, juga jarang pergi ke masjid. Kalau biasanya setiap salat Magrib, Isya, dan Subuh di masjid saban hari, kini sudah tidak lagi. Sekarang saya lebih memilih salat sendiri di rumah. Saya juga tidak tahu kenapa. Saya hanya merasa semangat untuk menunaikan salat berjamaah dalam diri saya memudar. Kini saya lebih sering berpikir “Tidak berdosa kan meskipun salat di rumah?”
Kian hari kian berkurang saja jamaah di masjid. Bahkan masjid mulai jarang dan mengurangi acara-acara yang dulu diselenggarakan, seperti Isra Mikraj. Kini masjid tidak lagi memperingati peristiwa perjalanan nabi untuk menerima perintah salat dari Allah Swt. Warga juga seakan tak keberatan dengan keputusan yang demikian. Termasuk diri saya sendiri.
Tetapi, suatu Jumat siang, hal aneh terjadi pada diri saya. Saat itu saya sedang duduk di teras depan rumah. Saya melihat ke arah jalanan. Memandangi lalu lalang kendaraan. Di tengah keasyikan itu, saya tiba-tiba melihat sosok Ustaz Abidin melintas dengan berjalan kaki. Ustaz Abidin memakai sarung berwarna putih, baju kokoh dan peci dengan warna yang serupa.
“Ustaz Abidin?” Saya menggumam. Saya mengedip-kedipkan mata beberapa kali untuk memastikan bahwa apa yang saya lihat bukan karena kesalahan pandangan saya. Ternyata kesalahan bukan pada mata saya. Saya melakukannya sekali lagi. Tetapi, sosok Ustaz Abidin itu melintas di jalan. Saya yakin itu…
Ah, itu pasti halusinasi saya saja.Ustaz Abidin sudah meninggal, pikir saya.
Pikiran saya mendadak teringat pada kegemaran Ustaz Abidin saban hari Jumat. Ya, biasanya beliau akan pergi ke masjid untuk mengetes suara corongnya. Tetapi itu cuma bayangan saya semata. Ustaz Abidin sudah tidak ada dan tidak mungkin melakukan kegemarannya itu.
Seketika, satu pemikiran melintas di benak saya. Saya bangun dari duduk saya dan segera melangkah meninggalkan rumah menuju masjid. Sebelumnya saya meminta kunci pada marbot. Setelah itu saya lansung mengetes suara corong masjid.
“Cek… cek… satu… dua… tiga… dicoba… haloooo…”
Kini saya tahu alasan Ustaz Abidin memiliki kegemaran seperti itu. ***
Yudik W., seorang akuntan yang menyukai cerita fiksi. Ia tinggal di Patokan, Situbondo, Jawa Timur