Dongeng tentang Pulang

SEPULUH tahun yang lalu aku dijemput kendaraan adikku. Setelah berputar meninggalkan stasiun—menghindari pasar—ia menyelinap-nyelinap ke banyak daerah yang seharusnya dihindari karena membuat jarak tempuh akan memanjang—meski (sekaligus) akan membuat waktu tempuh jauh berkurang dibandingkan dengan memakai jalur utama. Dan akhirnya memakai Jalan Lemu—yang sejajar dengan jalur utama ke luar kota, Jalan Kepo, yang harus dihindari karena pasti macet. Tapi Jalan Lemu juga penuh lerotan kendaraan, dan bahkan yang berparkir serta mengeluarkan orang-orang yang gairah mampir, berbelanja sepatu, karena—dan itu tak berubah, karena sejak dulu begitu, dan dipertahankan sampai kini—dengan mampir ke showroom industri sepatu, yang semuanya berderet di kiri-kanan jalan, campur dengan segala jajaan kuliner dan toko apa saja—meski bengkel dan pabrik (sepatu) mereka jauh berada di dalam kampung.

Baik dari depan, di arus kanan, maupun di arus kiri yang harus dilalui, kendaraan bergerak pelan, sebelum melaju dan kemudian membelok. “Kita akan menyeberang di sana, lalu masuk jalan kampung dan ke luar di K—kalau tol sudah selesai pasti segalanya akan lebih lancar,” kata adikku sambil menyalakan rokok, dan memblarkan jendela terbuka dan menikmati sisa pesawah, tanaman hijau kampong, dan perkampungan baru yang mulai dirintis dengan julangan-julangan bangunan baru. Tapi benarkah tol akan membuat segalanya lancar? Atau akan membuat sumbatan leher botol di gerbang masuk serta keluar? Dan lebih dari semua itu, aku menikmati petualangan laju di jalan baru, daerah yang tidak pernah didatangi sampai berumur 54 tahun—pun bagaimana gigihnya mereka memanfaatkan ruang buat mengekalkan keberadaan. Tapi apa itu memang sebuah kemajuan atau sedang menstimulasi kesibukan dan hingga jalan akan kembali penuh kemacetan?

Dan setelah itu, ke mana kenangan dan masa kecil itu—bahkan romantika pedih-perih ketika membangun—bermukim? Bukankah itu akan disisihkan dan bahkan jadi artefak yang—bagi anak-anak itu— cuma pantas dibuang, meski dengan diam-diam ditangisi si orang tua? Dan karenanya, aku berpikir tak akan dan tak ingin pulang lagi ke sini, ke kota kelahiran yang pelan berubah, dan tegak-angkuh sebagai yang lain dan tak dikenal lagi.

***

MUNGKIN umur adalah penumbuh kesadaran baru: bahwa pulang itu bukan cuma bergerak kembali ke titik awal, ke titik di mana kita dulu berangkat untuk menetap di tempat lain. Mungkin itu tanah kelahiran, kampung masa kecil. Bahkan, mungkin, hanya halaman depan rumah, areal yang ada di luar rumah tapi rapat ke batas rumah dan ada di sisi pintu utama rumah, di mana tanah digali, lalu ari-ari, plasenta—dalam kendi kecil dan ditemani dengan kitab kecil Yasin dan beberapa perabotan rumah tangga alit lainnya—dikuburkan. Dan tidak sepenuhnya dilupakan, karena terus dijaga dengan selalu diberi penerangan terus-menerus selama tujuh hari. Bahkan dijaga agar tak sampai kecolongan digali anjing liar atau diambil orang jahat. Dan, pada akhimya, mungkin juga rahim lanjutan, tempat air ketubah menggenangi pertumbuhan janin, lalu pecah dan kita menjelma di dunia dengan ibu yang kembali jadi wanita yang perlahan rahimnya mengerut dan pulih jadi senormal wanita lajang.

Arsip Cerpen di Indonesia