Matahari sudah terik. Aku membantu ibu mencuci dan memotong daging kijang yang dibawa kakak tadi pagi. Sambil menimba air, pikiranku mencari dari mana asal kijang malang ini? Kampungku adalah dataran rendah yang dikelilingi bukit di timur, utara, dan barat. Sementara di selatan membentang Laut Selatan, Samudera Hindia. Orang-orang tua di kampungku lebih mengenal daerah ini dengan nama Ngerawan. Usut punya usut, dahulu kala kampung ini adalah rawa yang terhampar luas. Namun apakah mungkin ada hewan liar seperti kijang yang masih berkeliaran di kampung? Sedangkan dari acara televisi yang pernah kutonton, kawanan kijang biasa hidup di padang rumput atau di hutan.
“Biasanya kalau ada hewan liar, hewan dari hutan yang masuk ke kampung, tandanya habitat mereka sedang tidak baik-baik saja.” Kalimat ibu itu membuyarkan rasa ingin tahuku.
“Lantas dari mana kijang itu, bu?”
“Mungkin dari arah tenggara sana. Gunung Kursi. Di sana ada padang rumput dan hutan.” Kata ibu menjelaskan.
“Maksud ibu bukit?”
“Yo wes itu lah. Ibu ndak ngerti mana bukit, mana gunung. Almarhum kakekmu juga pernah bilang kalau ada hewan liar masuk kampung, itu pertanda akan ada bencana”.
***
Gunung Kursi atau bukit Kursi berada di sisi tenggara kampung kami. Adalah gugusan dataran tinggi yang memanjang ke selatan. Dilihat dari kejauhan, bukit itu seperti bukit pada umumnya; dari bawah landai dan menanjak ke atas. Namun di bagian tengah seperti ada padang rumput yang bentuk tanahnya datar ke dalam, kemudian menanjak lagi sampai ke puncak. Mungkin karena adanya padang rumput itu, bentuk bukit jadi mirip kursi panjang yasng mempunyai sandaran.
Aku biasa melihat bukit itu ketika sedang menjaga tanaman padi—dari gangguan burung—milik keluarga kami yang mendekati masa panen. Sebelumnya, aku tidak pernah mengamati secara detil. Buatku itu hanya bukit biasa. Namun, semenjak ibu mengatakan kalau kemungkinan kijang itu berasal dari sana, aku bergegas menuju sawah untuk melihat bukit Kursi lebih lama.
Benar saja. Dari kejauhan, di bukit Kursi kudapati semuanya menguning seperti padi yang siap panen. Bahkan di sekitarnya sudah jarang sekali pepohonan. Keadaan yang sama juga terjadi di bukit sekitarnya. Mungkin kijang malang itu nekat turun ke kampung karena sudah sulit menemukan makanan, atau mungkin terpisah dari kawanannya ketika berjalan jauh untuk mencari makan.
“Kemarau sudah separah ini.” Gumamku.
***