Setelah Seekor Kijang Mati

“Kemasi baju-bajumu! Ibu akan membereskan surat-surat penting di lemari.” ucap ibu sambil tergopoh-gopoh membawa kantong plastik besar.

“Banjirnya sudah hampir masuk rumah, bu!” kakak berteriak dari teras.

“Makanya, cepat urus barangmu!” tukas ibu, “Kalau hujan ndak berhenti satu jam ke depan, kita ngungsi.

“Sek, aku ke pos kamling dulu. Mukul kentongan!”

“Kok hujannya bisa sederas dan selama ini, bu? Ini kan musim kemarau dan sedari tadi mendung normal-normal saja.” Aku mengambil baju seadanya. Yang perlu kuselamatkan adalah buku-buku.

“Mungkin ini karena kijang yang ditangkap, disembelih, dan kita makan bersama-sama kemarin!”

Jawaban ibu menghentikan aktivitasku mengemasi barang. Seketika ingatan pada waktu membersihkan daging kijang terngiang di kepala. Ibu mengatakan kalau hewan liar turun ke kampung, habitatnya sedang tidak baik-baik saja. Dan juga pertanda akan ada bencana.

Hari ini tepat satu bulan yang lalu kami sekeluarga, bahkan mungkin sebagian warga kampung menikmati daging kijang malang yang masuk kampung itu. Mungkin pertanda itu benar, bencana itu berwujud banjir di musim kemarau.

“Bu! Ibu!” kakakku pulang. Tubuhnya kuyup, “kita mesti ngungsi, bu! Hujannya belum tentu reda dalam waktu dekat. Gunung Kursi juga longsor! Aku tadi dapat kabar di pos kamling!”

 

Luar Ruang, Agustus 2019

Mahfud Ridwan, lahir di Lumajang, 22 februari 1993. Mukim di Bantul, Yogyakarta. Buku yang sudah terbit : Sebuah Hari Untuk Tidak Merayakan Apa-apa (Kumpulan Puisi. Gambang, 2018). Kerap nongkrong di Komunitas Luar Ruang.

Arsip Cerpen di Indonesia