Ia Menangis Bersama Malaikat

Penerobos mulai berteriak dan meminta ulama berhenti berceramah dan meninggalkan masjid. Warga yang sebelumnya larut dalam petuah naik darah, mereka bangkit menghadang kelompok penyerang. Seandainya Mahazi Idris tidak mengenal baik orang-orang itu, akan sangat susah membedakan kedua kelompok. Suasana menjadi panas, mereka saling maki, saling tuduh, saling mengkafirkan di rumah ibadah yang sama. Kemudian berlanjut ke saling tinju.

Titik api pertama berasal dari sepeda motor Mahazi Idris yang dibakar massa. Pemuda itu hanya bisa melihat tempat persembunyiannya. Api terus merambat ke kain sampiran masjid, melahap mukena dan permadani yang bertumpuk-tumpuk. Pada saat itu kedua golongan massa terkesima, api mulai menjilat mimbar dan merayap ke kayu-kayu yang menyangga atap masjid. Kedua  golongan berlari ke belakang, menuju bangunan berbentuk trapesium, membuka keran-keran air, tetapi hanya gayung yang bisa digunakan untuk mengangkut air ke bangunan utama yang terbakar. Mereka panik dan saling bertabrakan antara yang mengambil air dan yang berlari kembali ke arah masjid. Seharusnya masjid tak bisa terbakar, tak ada neraka di sana. Pada saat itu Mahazi Idris mendengar malaikat menangis dari setiap sudut. Dan ia ikut menangisi sepeda motornya bersama malaikat.

***

Jeumpa Keubiru mendesah, lalu meletakkan kembali naskah ayah di atas meja penginapan, naskah yang telah menguning dimakan usia. Karena naskah itu pula, saat ini gadis itu berada di salah satu kamar penginapan yang berjarak lima kilometer dari Kampung S. Naskah yang sudah berulang kali dibaca, namun ia belum berhasil menemukan alasan ayah mengatakan tidak bisa menatap matanya. Menurut ibu, mungkin itu cerita yang belum selesai ditulis. Suatu pagi, sepuluh hari sebelum ayahnya meninggal akibat kecelakaan,  ayah duduk di depan laptop di kamar mereka. Ibu yang hamil muda tersentak bangun karena rasa mual, dan mendekati ayah yang langsung menutup laptop; menyembunyikan apa yang ditulisnya dari ibu. Mungkinkah ada yang disembunyikan ayah dari ibu? Ayah sakit atau sedang merasa terancam?

Dua hari setelah kecelakaan maut yang merenggut nyawa ayah, orang kantor datang menemui ibu untuk mengembalikan barang-barang ayah yang tertinggal di atas meja; salah satunya laptop milik ayah. Menurut teman kantor ayah, sebelum kecelakaan maut itu terjadi, ayah pamit untuk menemui seorang klien penting. Sebagai manajer pemasaran, ayah memang kerap bertemu dengan banyak orang.

Butuh waktu setahun lebih untuk ibu, sebelum ia membuka laptop ayah dan memeriksa file-file di dalamnya, mencetak yang dianggap penting dan membiarkan sebagian lainnya. Naskah yang ditulis ayah untuk putrinya  merupakan salah satu yang dianggap penting oleh ibu dan baru diberikan kepada Jeumpa Keubiru saat gadis itu berusia tujuh belas. Rasa duka mendalam telah membuat ibu meninggalkan tanah air mereka setelah mengubur foto-foto ayah. Hanya beberapa tulisan ayah yang telah dicetak yang dibawa ibu. Dan ibu memilih tetap melajang sambil membesarkan putrinya di negeri orang.

Arsip Cerpen di Indonesia