Cerpen Kartika Catur Pelita (Bangka Pos, 08 Desember 2019)

Sungguh, ia tak pernah bermimpi, seumur hidup, hingga usianya separuh abad, tak pernah menduga, jika pada suatu masa ia didudukkan di depan hakim. Minarti didakwa sebagai tersangka pencuri sebongkal ubi!
Pada sebuah ruang pengadilan di kota di Pulau Jawa.
“Mengapa aku harus dihukum?” Minarti mengeluh. Lebih tepat, merenungi nasibnya yang buruk.
“Karena Sampeyan telah mencuri!” Dakwaan yang dituduhkan, seiring telunjuk-telunjuk yang menuding jidatnya.
“Aku tidak mencuri! Aku hanya mengambil sebongkal ubi pengganjal perut lapar….” Minarti mendesis, menguar kejujuran, saat pengacara, yang mengulurkan bantuan, menelusuri jejak peristiwa yang dilakukan Minarti. Perihal pencurian sebongkal ubi, yang dituduhkan si pemilik kebun.
“Tapi Sampeyan mengambil tanpa minta izin pemiliknya! Artinya…Sampeyan maling,” gumam si pengacara antara yakin dan iba. Ia tengah berada pada persimpangan antara hukum dan rasa kemanusian. Minarti berdiri pada masa kini yang tersebab perilaku dari masa lalu.
“Senja itu aku seharian ngemban si Bontot, berjalan puluhan kilometer setelah menemui Bapaknya Tole yang mendem wedokan. Bukannya memberi uang belanja, pemabuk itu…malah marah-marah dan mengancam akan menceraikan ibune anak-anak ini,” Minarti menuturkan jalan perih kehidupan. Jalan beronak duri yang mesti dititi, setelah ia memasrahkan diri pada perahu pernikahan, pada nahkoda yang dipilihnya atas nama cinta. Dulu, belasan tahun lalu. Saat itu kedua orangtua tak merestu. Minarti terbuai aroma cinta yang hangat nikmat, meski ternyata si lelaki tak lebih dari petualang cinta. Penjelajah kenikmatan birahi. Dulu saat Minarti masih seperti bunga mawar merekah wangi, ia disayang dibuai, dicumbu, disirami air surga, dipupuki penyubur kehidupan. Setelah tahun-tahun berlalu, dan ia menumbuhkan tunas baru, ia dicampakkan. Jangankan memberi air supaya bertahan hidup, bahkan menengok pun enggan. Si lelaki buaya itu tak peduli, apakah bunga mawar dan tunas miliknya masih hidup atau tak. Masih ada atau tak tiada. Masa bodo. Padahal seburuknya manusia, ia lebih berharga karena berakal. Bukan berbuat seperti hewan. Menuruti nafsu, terbelenggu kenikmatan sesat nan sesaat.
Aku tak sanggup lagi melihat suamiku bercumbu di depan mata dengan perempuan binal.” Minarti membiarkan anak sungai mengaliri pipi layu. “Aku pulang, menangis sepanjang jalan, jalan kaki dan kelaparan. Ketika melewati kebun ubi aku mengambil sebongkal, memakannya sebuah, sisanya kubawa pulang ketika ingat di rumah tak ada beras. Ubi bakar untuk memadamkan tangis si Bontot yang tak kenyang mengenyot susuku yang mampet.
Aku memang orang kere…tapi mengambil milik orang lain baru sekali itu, karena tak sanggup lagi menanggung kemalangan dan kelaparan.”
“Kami mengerti yang Ibu rasakan. Kami turut prihatin pada nasib Ibu yang disia-siakan suami.”
“Semoga suami Ibu menyadari kekhilafannya. Semoga ia menjadi suami yang baik, sayang pada istri dan anak-anaknya.”
“Mungkinkah?”
“Pada saatnya ketika dia tobat, dia kan kembali pada pelukan Ibu dan anak-anak. Di mana pun yang namanya istri muda atau simpanan, takkan tulus menyayangi. Ketika lelakimu sudah renta, saat ia tak punya lagi jabatan dan miskin, ia akan ditinggalkan. Percayalah pada kebenaran!”
***
“Kami tak mau tahu. Sampeyan tetap bersalah. Sampeyan harus dihukum!” si polisi bersikeras.
“Dermawan itu telah memberi sekarung beras, bahkan bersedia membayar seratus kali harga ketela, apakah …aku bisa bebas?” Minarti memohon. Seorang yang tak dikenalnya, tiba-tiba datang seperti malaikat menawarkan sejuta kebaikan. Si dermawan bahkan memberinya uang untuk modal buka usaha. Juga sebuah rumah untuk ditinggali, sepanjang ia mau menempati. Ternyata masih ada malaikat di antara iblis yang bergentayangan.
“Kamu tetap dihukum! Kamu bisa masuk penjara tujuh tahun! Pemilik kebun ketela ingin orang yang mencuri kapok!” Pengacara berbadan besar, berambut botak, bersuara lantang mengutuknya.
Minarti, yang tak lagi memiliki orangtua dan saudara, masih menghiba, mencoba membuka nurani mereka yang mengaku sebagai manusia
“Tapi Pak Polisi, kalau aku ditahan, bagaimana nasib si Bontot yang masih mentil? Apakah boleh aku ajak tinggal di penjara, daripada tak ada yang merawatnya. Biarlah si Tole mengamen, aku dan si Bontot di penjara, setidaknya tak bingung esok mau makan apa…?”
***
“Mencuri pisang dihukum 10 tahun penjara, korupsi milyaran rupiah dihukum 3 tahun. Mencuri ayam dihukum 3 bulan. Menggarong uang rakyat malah diberi remisi. Di mana letak keadilan?”
Berita-berita yang menyuarakan hati nurani rakyat terpampang di media cetak dan online. Sekilas sekelebat orang-orang membacanya. Selintas hanya menempel di mata, atau tersimpan di benak. Beragam komentar dan kesan menguar. Masyarakat awam, kaum intelek, pemuka agama, pejabat, seniman, pegiat sosial, mahasiswa. Pro kontra.
“Bagaimana nasib si pencuri ubi?”
“Ia dihukum atau dilepaskan?”
“Namanya Minarti. Statusnya gak jelas. Menikah, tapi suaminya tak bertanggungjawab.”
“Kasihan…”
“Duh, malangnya nasib anak-anaknya kalau si Ibu di penjara?’
“Ngapain kasihan, kan masih ada si ayah anak-anak itu…”
“…anak-anak bisa dipelihara negara.” ***