Cerpen Joni Hendri (Tanjungpinang Pos, 15 Desember 2019)

Benda putih menyelimuti, ia pergi ke sana dan kemari bersama angin. Serba salah menentukan nasib dari angin yang malang, dan benda putih bersama angin itu saling bercinta dengan kita. Tentang sesak yang tak beraturan, lalu asma pingsan di hidung manusia-manusia.
“Betul-betul sesak nafas ini, heiiii eh! Asap ini terus masuk kelobang hidung. Tiap hari Fatimah asik membakar saja, masuk ke dalam rumah asap yang bermacam-macam bau ni!!! Baju pun dah salang asap,” kata Tok Dakim.
Setiap ia duduk di tingkap usang itu selalu saja asap masuk, sehingga menusuk dalam hidung tua yang sudah renta, seperti hidung sudah tidak lagi banyak fungsinya. Kalau ditutup tentu saja rumah akan terasa gelap, apalagi kesendirian sangat membuat resah pada hati. Anak-anak Tok Dakim semuanya sudah berkeluarga tak ada yang satu rumah bersama ayahnya. Ketika lebaran atau hari liburan saja mereka berkunjung ke rumah tua.
Fatimah yang setiap hari membakar daun rambutan itu, sadar bahwa asap mengepul masuk ke jendela rumah Tok Dakim. Terkadang serba salah menjadi pilihan tak berdaya dalam akalnya, kalau tidak dibakar daun akan menumpuk lalu mendatangkan nyamuk, kalau dibakar, bahaya pula lah yang mengutuk. Maki hamun tetangga selalu terdengar, masalah asap pembakaran daun rambutan miliknya. Satahun yang lalu anak Fatimah yang ketiga meninggal dunia disebabkan demam berdarah, kata dokter akibat nyamuk yang berkeliaran di rumahnya dan sampah rambutan itu tempat ia bersarang. Dari situlah ia mulai khawatir dan teroma begitu kuat dalam batin, tak ada yang tak bersedih ketika anak meninggal dunia disebabkan hal yang sedikit sepele, yaitu banyak tumpukan daun-daun.
Tok Dakim yang masih termenung di jendela itu serasa mau keluar menuju rumah Fatimah untuk marah, tapi karena usia telah senja yang sebentar lagi rasanya mulai redup, hal itu selalu menjadi penghalang dan membuat ia berpikir panjang. Sebab usia yang sudah senja tidak indah jikalau berkata-kata yang tidak elok, hanya membuat perjalanan berbelok-belok. Dalam arti kata mempersempit langkah, baik langkah persaudaraan, apalagi langkah menghadap kematian, dalam hatinya selalu berkata.
“Mengapa anak-anak tidak pernah ingat dengan orang tua! Padahal dari kecil sesalu diingatkan melalui ceramah-ceramah Ustad.”
Begitulah bisik hati Tok Dakim tentang anak-anaknya yang tak mau tinggal di rumahnya, untuk menemani atau mengasuh ia yang sudah tua. Ia seperti orang yang tidak mempunyai anak, seperti hidup di panti jompo.
***
Hamidah anak pertama Tok Dakim yang tinggal jauh dari kampung yaitu kota Pekanbaru bersama suaminya dan dua orang anak. Julisman nama suami tercinta, anak pertama Rosdi dan anak kedua perempuan bernama Marfuah. Keluarga ini bisa dikatakan alim. Tapi anehnya meraka lupa dengan orang tua di kampung. Hal yang semacam itu selalu kabur pada kacamata kealiman mereka. Padahal mereka sadar tentang orang tua mereka di kampung, tapi seolah-olah hal itu seperti sendiwara yang bisa dilihat sekali saja.
***
Kini berkali-kali dari mulut ke mulut, orang sekitar Rumah Fatimah itu sudah mulai heboh. Sebelumnya hanya diam saja melihat dari kejauhan tentang asap daun rambutan yang dibakar oleh Fatimah itu. Sebabnya asap kini sudah menyebar kemana-mana hingga ke kampung sebelah, ramai orang mulai mencari sumber asap yang menyebar itu. Timbul kekewatiran yang menggelisahkan dimusim panas ini. Padahal Tok Dakim setiap hari menghirup dan menahannya tapi pecah di perut saja.
Peristiwa itu terdengar oleh Fatimah, bahwa orang-orang sudah mulai sibuk dengan asap daun rambutan yang dibakar. Lalu ia berjalan ke kamar mandi, mengambil air untuk memadamkan api yang sudah memakan tanah, tidak hanya daun rambutan saja. Ibarat api memakan sekam padi. Pelan-pelan ia mulai bersuara terhadap dirinya.
“Nampaknya sudah mulai padam.”
Dialog itu terdengar ke telinga Tok Dakim, pelan-pelan umpama angin meniup lembut. Tok Dakim pun lansung menjawabnya dari jendela.
“Itu takkan padam dengan sekejap mah, kalau api sudah memakan tanah sama artinya api dalam sekam!” Sambil menghirup kopi.
Fatimah menoleh kearah Tok Dakim
“Mak eh! Kalau begitu bahaya juga ya Tok?”
“Bahaya lah, apalagi cuaca sekarang musim panas ini.” Sambung Tok Dakim kepada Fatimah.
“Macam mana ni Tok? Apinya sudah nampak padam dan asap ini bukan dari sini sumbernya dari hutan kampung sebelah sana tok. Tapi orang cueriganya kemari, aneh manusia ini!, mana yang dekat situ pula tempat membuang umpat”.
“Begitulah lah mah. Hidup ini selalu kalah dengan kecemburuan dan yang kalah itu diperbudakkan.” Sambung Tok Dakim Lagi.
Padahal asap yang tebal itu berasal dari kampung sebelah, tapi anehnya orang-orang menduga asap itu berasal dari pembakaran daun rambutan milik Fatimah. Dengan rasa gelisan Fatimah berjalan seputaran rumah menuju dapur tempat masak, sesekali keliling halaman. Yang terdengar dari khas langkah kaki itu adalah derit lantai papan rumah panggung, seakan-akan menirukan langkah kaki Fatimah, bak piano bernada minor. Terkadang ia berpikir mau menebang pohon rambutan itu, sebab asap punca masalah dari semua ini. Orang-orang menduga dia, karena rambutan itu lebat buahnya. Hingga membuat hati mereka merasa iri yang berkepanjangan, memang daunnya sering gugur di jalan aspal tempat jamaah pergi ke Musholah.
Karena merasa lelah berpikir dan berjalan, Fatimah duduk di kursi rotan tua. Sambil menyedu teh yang sudah ia sediakan, memakan sepotong roti sembil bermenung. Ia bercakap-cakap dengan diri sendiri.
“Nampaknya aku memang suka mengerjakan pemikiran yang sia-sia, ini benar-benar serba salah. Karena peristiwa asap daun rambutan ini. bisa membuat tak tidur siang! Malangkah dalam hal ini? siapa yang salah, diri sendiri atau mereka. Entahlah! Hidup ini memang serba salah.”
Kali ini Fatimah memang tidak bisa tidur. Saat mata terpejam, pikirannya terus terbangun dan mengarah kearah asap itu. Padahal tidur sebuah pintu ketenangan yang terbuka. Pristiwa-pristiwa asap itu hadir saling membayang-bayang berwarna hitam yang meresahkan benak. Kali ini memang sudah telanjur sia-sia dalam berpikir, tak dapat dipungkiri bahwa ini beban yang terbuang dalam khayalan. Timbul rasa muak bagi seorang wanita janda yang baru ditinggal anak kesayangan. Apalagi sang suami meninggalkan keluarga itu tampa meninggal apa-apa. Tiba-tiba pikirannya mengarah kembali tentang asap daun rambutan.
“Hmm, aku tahu. Ini adalah sebuah dugaan orang terhadap rambutan tersebut, kalau begitu aku tidak akan pernah membiarkan pikiran ini sia-sia dan berkepanjangan. Jalan satu-satunya menebangnya!.”
Tampa pikir panjang, Fatimah menebang pohon rambutan yang bermasalah itu. “Inilah jalan satu-satunya.” Bisik dalam hati sambil minum teh.
***
“Seumur hidup baru kali ini duduk di jendal usang ini nyaman, serasa duduk di pinggir pantai, tanpa ada asap yang datang masuk hidung”.
Semenjak pohon rambutan ditebang Tok Dakim sudah merasa aman, duduk di jendela tua tersebut.
“Kali ini benar-benar nyaman duduk di jendela tua ini, entah apa yang harus diucapakan terhadap kenyaman ini.” Sambil menyedu kopi dingin.
“Hari ini kopi dingin sebagai pertanda pertama, tentang kehilangan asap. Tapi begitulah dinginnya hidup yang sudah tua. Dengan demikian semua orang pasti akan merasakan, tidak perlu lagi menghitamkan rabut atau berangan-angan menjadi orang terkaya yang memiliki perusahaan yang besar. Tak perlu!”.
Sebuah pemikiran yang muncul perlahan seperti asap dari sekam, mulai mengarah yang baik-baik saja. Tapi Tok Dakim sudah larut dalam kesedihan yang pajang walaupun kegembiraan yang baru ada, sebab anak-anak dan cucu tidak berminat untuk mengasuh. Maka ia hanya bisa marah pada daun-daun rambutan. Tapi itupun sudah tidak ada lagi. Dengan sengaja ia menjerit dari jendela tua itu dengan selantang-lantangnya.
“Anak dan cucu sudah pergi meninggalkan asalnya, dan asal pun seperti menajdikan asap di setiap zaman, maka kesini lah anak cucu”.
“Mari kesini!” “Mari kesini!”