Mahameru; Peristiwa Persembahan

Puisi-puisi Wendy Fermana (Koran Tempo, 01-02 Agustus 2020)

 

Mahameru

Hanya ada sehelai kain digantung

dan pohon kelapa hampir runtuh

langit biru dipenuhi burung

awan-awan menunggu air jatuh.

 

Gunung jadi tonggak

burung terdengar berkoak

memutar tembang kenangan

perihal perjalanan menemukan.

 

Hanya ada selembar lontar

yang menunggu seorang menuliskan

babak baru bersabar

dan berjalan tanpa hentian.

 

“Bentangkan sarung

biar angin terperangkap”

Seseorang siap bertarung

dalam suasana gelap.

 

Akan tetapi, blencong masih nyala

hadirkan cerita yang belum sudah

gunungan pun menumpuk di utara

semuanya terlampau sulit dibaca.

 

2016-2020

 

 

Peristiwa Persembahan

Selaksa paksi bukan pahala

yang dikirim Sang Hyang

buat menyeret mega agar berlalu.

 

Pancabicara dalam banten

tak jua layukan padma tua

meski kering, meski pecah,

meski hanya biji, maya-maya

merembeskan marah.

 

Bangun lingga di petilasan

walau kucur kesumba

tak habis tolak mala

tak jua hapuskan darah

mercapada ini mabuk

aku mendaki tak kunjung merengkuh

puncak pun menambah amuk.

 

Pada segugus urusan

yang membatalkan kedatangan

paksi, aku selalu mendesak.

 

“Beri aku restumu, Batara.”

 

Selaksa paksi dengan kepak

mencipta beliung

tak jua menyudahi

gejolak dalam perut Mahameru.

 

“Beri aku kuatmu, Batara.”

 

2013-2020

 

 

Wendy Fermana lahir di Palembang, 10 November 1994. Selain menulis puisi, ia menulis cerita. Buku cerpennya Kawan Lama (2017) dan buku cerita anak Ratu Bagus Kuning (2017).

Arsip Cerpen di Indonesia