Cerpen Ede Tea (Fajar Makassar, 02 Agustus 2020)

Desas-desus yang tersebar bukan lagi hanya omong kosong. Salah satu anjing berbulu hitam legam itu terlihat membawa sepotong kaki kambing yang penuh darah. Warga yang melihatnya segera membuat laporan ke Pak RT dan meminta anjing-anjing itu untuk segera dibunuh. Mereka yakin bahwa anjing-anjing itulah penyebab hilangnya hewan kurban di kampung mereka. Tetapi, Kaligis menyangkal segala tuduhan itu.
“Anjing saya tidak pernah melakukannya. Mereka anjing yang baik dan penurut,” ujar Kaligis membuat pembelaan.
“Sudahlah, Ligis. Kau tidak bisa mengelak lagi. Jelas-jelas anjing itu membawa kaki kambing milikku!”
“Bisa saja anjing saya menemukannya di jalan, Paman. Dan bisa saja itu bukan kaki kambing milikmu!”
“Kenapa kau selalu membela anjing-anjing itu? Mereka binatang haram, Ligis. Haram!”
Mata Kaligis memicing seketika. “Tidak peduli kebenaran di pihak yang mana. Tapi yang benar tetaplah benar, Paman. Aku heran atas sikap kalian yang menuduh tanpa bukti. Bukan berarti karena anjing saya hanya ras kampung, kalian bisa menuduhnya seenak jidat.”
Kaligis pun segera menggebah anjingnya pergi. Lalu melempar sepotong kaki kambing itu hingga terpelanting mengenai pohon. Dadanya seketika bergemuruh. Rasa kesal dan marah berkecamuk dalam jiwanya. Ia bisa saja memukul wajah lelaki itu dengan tangannya. Tapi Kaligis memilih untuk diam.
Kaligis tahu bahwa hanya dirinya yang tidak punya hewan kurban. Semua orang di kampungnya paling sedikit punya satu kambing untuk kurban pada hari raya. Perbincangan-perbincangan yang berembus soal itu membuat Kaligis harus menanggung malu. Selalu saja ada sindiran-sindiran kecil yang terlontar menghakiminya. Sungguh, ia merasa muak dengan semua itu. Tentu bukan karena Kaligis tidak mau berkurban. Hanya saja nasib baik yang belum memihak kepadanya.
Kaligis hidup pas-pasan. Ia hanya penjual koran bekas keliling. Uang yang didapat tentu tidak seberapa. Jangankan untuk membeli hewan kurban, untuk mengepulkan asap dapur saja ia masih serba kekurangan.
“Tidak usah kau risaukan omongan mereka. Anggap saja angin lalu!”
Mak Tua, panggilan Kaligis pada ibunya, selalu bisa membuat hatinya sedikit lebih damai. Meski terkadang Kaligis juga akan sangat merasa berdosa. Saban subuh ia kerap mendengar doa Mak Tua perihal keinginannya kurban pada tahun ini. Saat-saat seperti itu Kaligis hanya bisa menitikkan air mata. Sebagai seorang anak ia merasa telah gagal.
“Aku janji, Mak. Kita akan kurban tahun ini!”
Seketika itu di ujung pelupuk mata bulat Mak Tua menyimpan banyak genangan air mata. Lantas ia menatap wajah anak semata wayangnya dengan tajam. Sebuah harapan mengalir ke langit. Tapi Kaligis tidak mengetahui itu.
Hari raya pun sudah semakin dekat. Dan terlalu banyak hinaan yang tertuju padanya. Kaligis termenung di bawah pohon beringin di atas bukit, sambil meratapi nasibnya yang terlampau pedih.
“Andai aku punya banyak uang. Aku pasti beli hewan kurban yang paling besar. Lebih besar dari milik Haji Kosasih,” gerutu Kaligis. Tak lama ketiga anjingnya mendekat, menyodorkan sebatang ranting kering.
Sebenarnya anjing-anjing itu bukan miliknya. Mereka hanya anjing liar yang dahulu Kaligis selamatkan di jalan. Ketika itu kaki mereka terluka parah sebab tertabrak sebuah mobil truk. Lantas Kaligis membawanya pulang dan dirawat hingga sembuh.
“Lihat tuh si Ligis! Orang lain urus hewan kurban, ia malah pelihara anjing. Hahaha…”
Kaligis tentu saja terpukul oleh ucapan itu. Ia ingin sekali marah, tapi ia tidak punya daya. Anjing-anjing itu pun semakin dekat dengannya. Ada saja tingkah konyol mereka yang membuat Kaligis merasa terhibur. Alih-alih mengusirnya ketika sudah pulih, Kaligis justru merawatnya tanpa pamrih.
Namun, akhir-akhir ini warga semakin tidak suka dengan kehadiran anjing-anjing itu. Terlebih saat hewan kurban mereka satu per satu hilang tanpa jejak. Mereka menuding bahwa anjing-anjing itulah pelakunya.
“Ini tidak bisa dibiarkan, Pak RT. Kalau begini terus, hewan kurban kita bisa habis!”
“Tenang, sabar dulu! Kita harus menyelesaikan persoalan ini dengan kepala dingin.”
“Kami tidak mau menunggu lebih lama lagi. Lebih baik kami sendiri yang membunuhnya!”
Pada malam itu warga berduyun-duyun menuju rumah Kaligis. Dalam dada mereka berjejal rasa marah dan jengkel. Mereka hanya ingin anjing-anjing itu mati. Kini mereka pun telah sampai di depan rumah Kaligis. Mereka berteriak memanggil nama pemilik rumah itu.
Kaligis dan Mak Tua yang baru saja selesai salat Isya segera membuka pintu. Mereka terkejut melihat banyak warga memasang wajah berang di depan rumah. Kaligis pun melangkah mendekati warga sambil membetulkan letak kopiahnya.
“Mana anjing-anjing kau, Ligis? Kami akan membunuhnya!” seru salah satu warga.
“Hilangnya hewan kurban kalian tidak ada hubungannya dengan anjing-anjing itu. Sadarlah! Kalian itu terlalu sombong. Tidakkah kalian sadar bahwa apa yang kalian punya hanyalah titipan? Baru kehilangan seekor kambing saja kalian sudah berani berbuat keji, bagaimana kalau Tuhan mengambil segalanya?”
“Tidak usah banyak omong! Tahu apa kau soal agama. Aku ini sudah haji dua kali. Sudah, cepat beri tahu kami di mana anjing-anjing itu!”
Saat keadaan semakin memuncak, terdengar sebuah gonggongan anjing yang begitu lantang. Warga pun mulai mencari asal suara itu. Seketika di dalam lubuk hatinya, Kaligis merasa gelisah. Semoga Tuhan menyelamatkan anjing-anjing itu, ucapnya dalam batin.
Warga berjalan ke samping rumah. Mereka melihat sebuah kandang yang begitu besar. Kaligis segera berlari untuk mencegah warga. Tapi seseorang menangkapnya dan mengikat tangannya pada tiang rumah. Kaligis tersedu-sedu saat warga mulai membuka paksa kandang anjing-anjing itu. Ia membayangkan akhir dari segalanya.
Saat pintu kandang terbuka, mata warga sontak terbelalak. Mereka melihat 3 ekor sapi yang begitu montok dan bersih. Seketika itu mereka merasa takjub sekaligus heran. Mereka tidak yakin atas apa yang kini tampak di depan mata.
“Ke mana perginya anjing-anjing itu?” Mak Tua bertanya kepada Kaligis.
Kaligis menggeleng. Banyak pertanyaan yang kini bersarang dalam kepalanya. Tapi, setelah itu ia menatap wajah Mak Tua dengan tatapan yang mendalam. “Tahun ini kita akan kurban, Mak!” bisiknya lirih. [*]