Lelaki yang Tersesat di Kompleks Pemakaman

Cerpen Moehammad Abdoe (Pontianak Post, 02 Agustus 2020)

Lelaki yang Tersesat di Kompleks Pemakaman ilustrasi Pontianak Post (1)
Lelaki yang Tersesat di Kompleks Pemakaman ilustrasi Pontianak Post 

SEPERTI orang sedang tersesat di tengah pemakaman. Lelaki dengan sebilah arit di tangan kanan itu bernama Sahidin. Nyalang matanya seolah sedang mencurigai setiap keberadaan semak-semak belukar. Begitu cermat ia mengintai sisa-sisa peninggalan zaman yang sudah banyak berubah sejak 15 tahun hidup di Jakarta. Pemakaman ini sekarang menjadi jauh lebih luas dan hijau.

Tidak hanya kesulitan atau kebingungan saat ia mencari letak di mana ibunya dulu dikuburkan. Melihat setiap makam memiliki pintu, seperti rumah-rumah kompleks yang memiliki tumbuhan kemboja di setiap halaman, sudah cukup untuk membuat Sahidin mengernyitkan dahinya dan bertanya-tanya; bukankah mati artinya seseorang telah meninggalkan seluruh sifat-sifat dunianya?

Puluhan penziarah saling berdatangan. Duduk dan mendoakan di sebelah makam orang terdekatnya yang seperti rumah-rumah kompleks itu. Kemudian, dari dalam seseorang akan membuka pintunya dengan wajah semringah saat menerima kotak hadiah dari seseorang yang mengunjungi.

Entah kenapa, tiba-tiba Sahidin merasa, bahwa dirinya tidak lagi berada di tempat pemakaman. Melihat orang-orang itu, Sahidin ingin mendekati mereka dan bertanya mengenai rumah ibunya saat ini. Sahidin akan meminta maaf, karena selama ini benar-benar sibuk dengan urusan politiknya, dan baru memiliki kesempatan untuk datang hari ini.

Di bawah langit sore yang tidak sebagaimana biasanya dapat memantulkan cahaya jingganya itu, tangan Sahidin kembali mengayunkan aritnya. Kakinya terseok-seok berjalan melewati lorong-lorong sempit pemakaman.

Tampak rumah-rumah di sekitar itu memiliki berbagai banyak karakter dan jenis. Salah satunya yang dapat Sahidin lihat; di antara rumah itu ada yang berukuran kecil dengan kondisi dinding berlumut. Ketika penghuni di dalamnya membuka pintu, Sahidin bisa melihat betapa joroknya mereka. Ruangan itu sangat kotor dan pengap, karena tidak adanya ruang untuk sirkulasi udara. Puluhan binatang biang keladi, seperti kecoak, tikus, dan lalat dapat hidup harmonis di rumah itu.

Sahidin tidak bisa bertamu berlama-lama atau sekadar mencicipi sepiring kudapan yang telah disuguhkan di atas meja kotor. Isi perutnya sudah keburu seperti diaduk-aduk saat mencium aroma kecoak dan tikus sebelum juga sempat menanyakan sesuatu.

Pemandangan yang serupa di sudut bagian paling sunyi tampak setelah Sahidin terbebas dari rumah kumuh tadi. Dan nyatanya, bisa dikatakan jauh lebih buruk dari rumah-rumah terburuk di sana. Seperti rumah kosong, kali ini pintunya tertutup rapat dan tidak memiliki jendela untuk mengakses sinar matahari atau udara segar. Di halaman depannya, pohon zakum yang mayangnya menyerupai tengkorak kepala iblis itu, juga turut andil memberi kesan menyeramkan. Rumput-rumput yang bernaung di bawahnya pun akan langsung terbakar saat tertimpa buahnya yang jatuh.

Meskipun rumah-rumah di sini terletak berdampingan, tetapi mereka menjalani kehidupannya masing-masing. Mereka tidak lagi bekerja selain makan dari kebaikan orang-orang terdekatnya yang datang mengunjungi. Di antara rumah-rumah sempit itu, ada yang berdiameter sangat luas dan mewah. Berbagai jenis bunga dan tumbuhan bidara dapat tumbuh subur di halaman depan. Sangat kontras dengan rumah-rumah kumuh sebelumnya, karena mereka tidak memiliki kebaikan dari orang-orang terdekatnya yang lupa. Bahkan, saking miskinnya mereka sampai rela bertahan tinggal di rumah-rumah yang nyaris roboh.

Saat melihat berpuluh-puluh penziarah yang datang membawa kantong hitam. Mereka seperti kurir pengantar barang atau makanan di rumah-rumah mewah. Sahidin merasa apakah dirinya juga sama dengan mereka? Namun, pada nyatanya ia tidak membawa amanah apa pun selain sebilah arit di tangannya. Sahidin sangat berharap penghuni rumah mewah itu adalah orang baik. Bersedia menjamu kerongkongannya yang terasa begitu lekat dan kering.

Sahidin kemudian meletakkan aritnya di bawah pot gantung rumah itu. Menjejakkan kedua kakinya ke ubin bersih. Setelah orang yang berada di dalamnya membuka pintu dan mempersilakan masuk, Sahidin benar-benar terpukau melihat kemegahan isi rumahnya. Penghuninya seorang perempuan tua dan hanya seorang diri menempati rumah yang entah bagaimana ia bisa mengurusnya seorang sendiri. Perempuan tua itu memiliki aura wajah yang baik. Di lehernya terkalung sehelai selendang sutra yang bagus dan harum.

“Tuan?” tegurnya.

Sahidin masih terpaku berdiri di lantai marmer yang memiliki kualitas terbaik dari yang pernah ia temui sebelumnya. Matanya mengedar ke seluruh bagian gemerlap ruangan. Melihat lampulampu hias menggantung terbuat dari kristal yang berkilau. Guci-guci tua raksasa di berbagai sudut dengan nilai seni yang bermutu. Ditambah lagi sebuah lukisan seorang petani yang mempunyai kemiripan wajah dengan pemilik rumah. Itu membuat Sahidin terlihat sangat kecil.

“Rumah ini benar-benar seperti istana termegah dari yang pernah saya masuki,” ujarnya.

“Jangan berlebihan memuji saya, Tuan,” timpal balik pemilik rumah. Ia mempersilakan kembali Sahidin untuk duduk.

Baru dengan melihat kemegahan dan keistimewaan isi rumah perempuan tua itu, rasa haus Sahidin mendadak hilang menelan air liurnya. Bahkan, jika perempuan tua itu tidak segera menanyakan maksud dan tujuan Sahidin datang ke rumahnya, ia pasti akan lupa untuk bertanya mengenai ibunya.

“Apakah Tuan sudah melalui proses sidang?”

Mendengar satu kata terakhir itu, Sahidin merasa malu dengan statusnya yang sedang dalam daftar pencarian orang. Segepok uang yang selama ini dibawanya kabur, sama sekali tidak menyaingi kejujuran perempuan tua itu.

“Berhenti untuk menjerumuskan saya, Nek. Bicaralah tanpa harus melukai perasaan orang lain.”

“Maaf, Tuan. Bukan maksud saya ingin menyinggung atau ikut campur dalam masalah, Tuan. Baiklah saya akan diam, kecuali hanya menjawab pertanyaan dariTuan.”

“Apakah Nenek mengenal perempuan ini?” Sahidin menunjukkan foto ibunya yang dikeluarkan dari dalam dompetnya.

“Saya tidak begitu hapal satu per satu orang-orang yang tinggal di kompleks ini. Tuan bisa menanyakan orang itu ke penjaga kompleks di pos depan. Di sana ada daftar nama dan nomor rumah orang-orang yang tinggal di kompleks ini.”

Merasa perempuan tua itu tidak bisa membatu lebih jauh untuk menemukan rumah ibunya, Sahidin memilih untuk mengakhiri pertemuannya. Ia mengambil kembali aritnya di tempat semula, sebelum kemudian meninggalkan rumah itu.

Di tengah perjalanannya menuju pos jaga, Sahidin heran ketika mendengar klakson lokomotif. Bahkan, getaran rodanya pun perlahan semakin terasa di dadanya. Merasakan hal itu, pertanda bahwa di kompleks yang luas ini terdapat Stasiun. Setelah berjalan beberapa meter ke depan, ternyata dugaannya benar. Ia menemukan sebuah jalur perlintasan kereta api yang memotong jalan.

Beberapa saat kemudian, rombongan gerbong kereta penumpang itu melintas seraya terus menyalakan klaksonnya. Sahidin harus menunggu gerbong kereta itu habis dan palangnya kembali dinaikkan.

Sesampainya di pos jaga, Sahidin langsung menemui seorang sekuriti yang sedang berjaga di sana. Tubuhnya berperawakan besar dan tegas saat berbicara. Sebagai petugas keamanan, dirinya punya hak untuk mencurigai siapa pun termasuk Sahidin. Meskipun yang dibawanya hanya sebilah arit biasa, tetap saja itu adalah senjata tajam yang dapat melukai atau bahkan menghilangkan nyawa seseorang.

“Saya belum pernah melihat Anda datang ke sini sebelumnya. Apakah Anda orang dari rombongan kereta tadi?”

“Bukan, bukan! Saya datang ke sini untuk mencari alamat rumah ibu saya,” Sahidin menjawab. Tangan kanannya memindahkan aritnya ke tangan kiri. Kemudian, merogoh dompet di saku celananya. “Apakah Bapak mengenal perempuan ini?” sambungnya seraya menunjukkan foto.

“Siapa namanya?”

“Fatimah.”

Sekuriti itu kemudian membuka laci mejanya dan mengambil buku besar berisi nama dan alamat orang-orang yang tinggal di kompleks ini. Petugas itu mencari nama “Fatimah” dari huruf inisial pertamanya.

“Nama Fatimah tidak tercatat di buku ini. Barangkali Anda salah tempat.”

“Tidak mungkin. Saya ingat betul rumahnya di kawasan sini. Saya hanya lupa di mana tepatnya.”

“Nama Anda siapa? Saya akan melacak alamat itu melalui nama anggota keluarganya.”

“Sahidin.”

Petugas itu kembali membuka bukunya dan …. “Anda rupanya telah berbohong kepada petugas dengan mengatakan bahwa Anda bukan dari rombongan kereta yang tadi. Mengapa Anda melakukan itu?”

“Saya benar-benar tidak mengerti apa yang baru saja Anda bicarakan.” Sahidin mulai kesal mendengar celoteh dari petugas itu.

“Anda jangan berlagak seperti orang bodoh. Saya tahu kereta itu disewa untuk mengantarkan Anda ke tempat persidangan.” Petugas itu mulai berkacak pinggang. Matanya menatap tajam Sahidin. “Pergilah ke sana dan tinggalkan senjata Anda di sini!” sambungnya seraya mengambil arit dari tangan Sahidin.

Apa yang dikatakan sama sekali tidak membantu masalahnya. Namun, Sahidin menjadi semakin penasaran untuk mengetahui siapa rombongan kereta yang petugas tadi bilang.

Dengan sangat terpaksa ia harus merelakan arit satu-satunya yang disita. Sebelum Sahidin memilih untuk meninggalkan pos jaga itu, petugas tadi juga bilang, bahwa setelah ia melalui proses sidang, akan diberikan fasilitas yang setimpal di kompleks ini.

Sahidin mungkin akan mendapatkan fasilitas rumah mewah seperti rumah perempuan tua itu. Namun, mengingat kerugian banyak orang selama ini, ia tiba-tiba saja terbayang sebuah rumah kosong terburuk dari rumah-rumah kumuh di sana.

Kakinya terhenti melihat seorang perempuan berkerudung hitam tengah terisak di antara puluhan orang lain pengangkat peti jenazah. Melihat itu, Sahidin kembali teringat tentang butir peluru yang pernah bersarang di dadanya.

Arsip Cerpen di Indonesia