Cerpen Dedi Tarhedi (Pikiran Rakyat, 05 Agustus 2020)

SEPULANG kerja, Ujang akan membeli sepatu baru. Niatnya selalu tertunda karena dia harus hati-hati soal uang. Gajinya sebagai THL, tenaga harian lepas di dinas pemerintah, jauh dari cukup.
PENDAPATANNYA, walau berdasar UMR, belum mampu menutupi biaya hidup sebulan. Untuk biaya dapur dan bayar listrik saja bikin muter kepalanya.
Oleh karena itu, Ujang mencari pekerjaan lain yang bisa menutupi semua itu. Disuruh membetulkan genting bocor pun mau. Walaupun bukan ahli, dimintai tolong memijat orang pun sudah biasa Ujang lakukan.
“Asal halal saja, Bu,” katanya pada istrinya yang masih mau mengerti. Walau sering juga tak tahan. Misalnya kalau beras habis, tapi tak ada uang.
“Masa untuk beli setengah kilo saja gak ada, Pak?” Istrinya bersungut.
“Ngutang dulu saja, Bu… sabar, nanti ada uang baru bayar.”
Begitulah. Hidup Ujang harus betul-betul ketat. Harus bisa membedakan mana yang penting, mana yang prioritas, dan mana yang mendesak. Sehingga keputusan yang diambil akurat. Dan masalah sepatu adalah masalah yang mendesak. Itu masalah sejak setahun atau dua tahun lalu.
Bahkan kalau saja tak dicegah istrinya, dia ingin menyampaikan masalah sepatu itu ke Pak RW.
“Lho, maksud Bapak apa? Masa masalah sepatu dibawa-bawa sampai tingkat RW?!” Istrinya terbelalak.
***
“SEPATUKU sudah jebol, Bu,” diomongkannya lagi rencana beli sepatu itu. Diangkatnya sepatu pantofel yang sudah kumuh itu. Walau sudah dilem berkali-kali, landasannya pun tetap rapuh. Baunya menyengat hebat.
“Iya, tapi Ibu juga ingin ke Kuningan,” kata istrinya tak peduli.
Mendengar itu Ujang tak sabar. Kali ini dia harus bisa meyakinkan istrinya.
“Dengar, Bu. Beli sepatu itu kan untuk Bapak bekerja. Itu jelas penting, Bu!” debat Ujang.
“Lho, apa silaturahmi itu tak penting?” Istrinya sengit.
“Ya, siapa pun tahu silaturahmi itu penting, Bu. Tapi dari Garut ke Kuningan itu memerlukan biaya. Lagian baru dua bulan lalu kita ke sana, Bu.”
Memang baru dua bulan lalu ke Kuningan tempat mertua Ujang. Istrinya diam.
Ujang melanjutkan:
“Sedang sepatuku sudah bolong. Malu dong, Bu, tiap hari diledek kawan-kawan!”
Alasan Ujang dipahami. Terbukti istrinya tetap diam terpaku. Dan akhirnya mengangguk.
Kesepakatan pun sudah ada, sepulang kerja—nanti sore—Ujang akan membeli sepatu idamannya. Sepatu yang sangat cocok dengan seleranya. Warnanya hitam, kulitnya asli. Sebagai keturunan Garut, tempat para pengrajin kulit, tentu tak akan menyulitkan Ujang memilih yang asli atau imitasi.
***
SAMPAI di kantornya, dengan g erakan ceria, Ujang berseru pada rekan-rekannya:
“Pokoknya besok lihat saja, sepatuku bukan lagi yang ini!” katanya, setelah bubar apel pagi. Saat apel itulah Ujang sering merasa rendah diri. Mereka memakai sepatu bagus-bagus, berjejer rapi dan mengkilap. Sedang sepatu Ujang? Harga dirinya diinjak oleh sepatunya sendiri!
“Ah, dari tahun lalu kau bilang besok, besok, tapi mana buktinya!?” balas kawannya.
Mereka tak pernah percaya. Karena memang bukan sekali-dua kali Ujang gagal membeli sepatu. Pernah dulu mau membeli tapi uangnya terpakai. Anaknya harus opname di rumah sakit. Demam berdarah tak bisa dianggap sepele.
“Tak apa-apa yang penting anak sehat lagi,” tenangnya.
Tapi kawan-kawannya tak percaya, dan makin mengolok-oloknya.
“Itu sepatu sampah!” Ejek mereka.
Tentu Ujang pedih. Ingin dia menghajar mulut itu. Tapi tak bisa. Dia memilih sabar.
“Pokoknya lihat besok!” Tegas Ujang.
Makanya siang itu dia cepat bereskan tugas, lalu pulang untuk membeli sepatu idaman.
Ujang sudah berkeliling ke toko sepatu dan mall-mall untuk memilih sepatu yang dia idamkan. Sepatu hitam dengan model hak setengah tinggi, dari kulit asli, ujungnya sedikit melengkung dan lancip seperti perahu. Dan kalau dipakai di lantai berbunyi tak-tak-tak. Oh, sepatu yang indah dan keren!
***
SEGERA Ujang pamitan pada istrinya untuk ke mall.
“Jangan beli yang mahal-mahal, kalo ada sisa beliin martabak!” Pesan istrinya.
Ujang segera pergi. Terbayang sepatu itu bertengger gagah di atas kaca bening rak-rak sepatu. Sepatu yang menunggunya untuk dibeli.
Ya, seminggu lalu sengaja Ujang ke sana dan menandainya sebagai gadis yang bakal dipinangnya. Sepatu gagah dengan harga tinggi untuk orang seperti Ujang. Tapi Ujang sudah berjuang keras demi mendapatkan sepatu idaman itu.
Dan begitu sampai di seberang mal itu, dia senang, dadanya berdegup kencang. Hanya di mall ini sepatu-sepatu bermerek dipajang.
Dia ingat kawan-kawannya. Betapa besok mereka akan tercengang. Sepatunya akan menjadi sepatu yang termahal dan terbagus di antara mereka. Dia tahu harga sepatu mereka. Sepatu yang biasa saja. Di pasar loak pun banyak dan murah.
Tapi sepatu yang akan dibeli Ujang adalah sepatu mewah sekelas pimpinannya di dinas. Dia ingin itu, selain dengan alasan biar awet, juga ingin buktikan kalau dia mampu. Dan, alhamdulillah, uang yang dia kumpulkan cukup.
Sore itu mal cukup ramai, bukan karena akhir pekan tapi juga karena awal bulan. Banyak ibu-ibu yang belanja bulanan di mall itu.
Hujan tiba-tiba mengguyur kotanya.
“Untung aku sudah di depan mall ini,” pikir Ujang. Tanpa menunggu hujan makin beringas, dia segera dan buru-buru berlari. Berlari menyeberang jalan menuju mal itu. Dan tanpa sengaja menabrak orang di depannya.
“Maaf, Pak,” Ujang tergagap. Sempat Ujang terjatuh. Dan merasa malu. Orang-orang menontonnya.
Ada sedikit basah air yang membuatnya tergelincir dan sempoyongan. Ujang bersyukur orang itu tak marah, sehingga dia bisa kembali menuntaskan rencananya yang di ujung tanduk itu. Membeli sepatu idaman. Sepatu hitam, bahan kulit mengkilap dan ujung sepatunya lancip. Dia berharap sepatu idamannya masih bertengger seperti minggu lalu.
Alangkah senangnya saat sepatu itu masih bertengger di tempatnya.
“Lihat yang itu, Mbak,” tunjuk Ujang pada pramuniaga. Ujang memandangi dengan teliti. Ya, ini sepatu yang tak kurang dari sejam bakal jadi miliknya. Modelnya pas banget dengan seleranya. Dan nomornya pun sudah benar.
Tapi tak urung dicobanya lagi. Ujang berdiri dan matanya menunduk melihat sepatu indah mengkilap yang sudah membungkus kakinya itu. “Jadi yang ini, Pak?” Pramuniaga bertanya.
Ya, Ujang mengangguk mantap. Lalu setelah menerima nota, dia cepat-cepat ke kasir. Tercapai sudah cita-citaku, girangnya. Dan dia membayangkan kawan-kawannya yang akan melihat sepatunya itu, tercengang dan kaget. Tak akan menyangka kalau Ujang bisa memiliki sepatu yang keren dan mengkilap itu. Tak menyangka kalau kali ini Ujang tak berbohong dan sungguh-sungguh. Mereka semua akan kaget dan tercengang.
Tapi ternyata yang kini kaget adalah Ujang sendiri. Saat dikodoknya dompet dari saku celananya, dia tersentak. Mula-mula kagetnya tak membuatnya panik.
Dia masih mencoba menganalisa dan mengingat-ingat. Dan memutar balik otaknya kalau saja dompet itu ketinggalan di rumah. Tapi dia yakin tak ketinggalan. Sejak pergi dia sudah siapkan segala sesuatunya. Tapi tak ada dompet itu di seluruh saku celana dan juga saku bajunya. Ujang sangat panik.
Dia ingat kejadian beberapa lama tadi di depan mall itu. Saat terpeleset jatuh dan menabrak orang. Dia merasa, ya dia baru sadar, memang ada yang sengaja menabraknya tadi itu, dan melenyapkan dompetnya! ***