Cerpen Reni Asih Widiyastuti (Radar Bromo, 16 Agustus 2020)

Entah sejak kapan gunung itu dibuat. Tapi yang pasti, kondisinya kian hari kian memprihatinkan. Berbagai macam bau menguar dari tubuhnya: amis, pesing, apak, asam. Membuatku selalu ingin muntah setiap kali melintas di depannya. Belum lagi lalat, semut, kecoak dan tikus yang setia mendekam di sela-sela ketiaknya. Lengkap sudah!
Aku khawatir jika suatu saat dia meletus, laharnya bisa membuatku mati secara perlahan. Bahkan semua orang di sini. Tapi para pembuat gunung tak pernah berpikir sejauh itu. Malah justru sering kudapati perilaku mereka yang seolah-olah ingin melestarikannya. Bau-bauan dibuat semakin pekat menyengat. Sementara ada yang hendak sekarat, yaitu aku.
Andai saja gunung itu dapat dipindah, pasti dadaku tak akan sesesak ini. Setiap malam tidur tidak nyenyak lantaran gunung itu selalu menghimpit, menyudutkanku di tempat yang paling nyaman dalam gubuk reyot ini. Ditambah pula jika para pembuat gunung sudah datang. Semakin meranalah gunung itu, seakan ia ingin berteriak. Meminta pertolongan padaku untuk dilepaskan dari belenggu yang mengikatnya.
Tak pernah kutahu dari mana datangnya para pembuat gunung. Kata ibu, mereka berdasi. Setiap datang selalu memakai masker pelindung. Tubuh-tubuh mereka menguarkan bau harum yang khas. Ibu senang sekali menghirupnya. Sampai-sampai lupa bahwa sebenarnya aku juga penasaran dengan mereka. Tapi ibu melarang dan terus melarang. Akhirnya aku hanya bisa meringkuk, melipat tubuh di dalam gubuk.
Sejak saat itu, aku mulai menyusun sebuah rencana agar bisa bertemu dengan para pembuat gunung. Kubuat lubang kecil di tempat favoritku sebesar biji jagung. Tak terlalu terlihat karena setelah itu juga kututup dengan kain. Berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ibu datang mengecek.
Malam pertama, aku mendengar derum mobil berhenti di depan gubuk kami. Ibu tak perlu mengingatkan untuk tidak ikut keluar, sebab aku memang sengaja sudah berada di tempat strategis ini. Dengan sigap kusingkap kain yang menjadi penutup itu. Dalam remang-remang lampu, aku dapat melihat para pembuat gunung bercakap banyak dengan ibu. Tapi aku masih tak mampu melihat wajah-wajah mereka yang masih saja tertutup masker.
Aku tak tahan dan berjingkat meninggalkan tempat strategis ini. Satu dua langkah kaki berhasil kulakukan. Namun belum sampai banyak, kudapati ibu sudah hendak berbalik badan—menyudahi percakapan. Aku segera kembali ke markas favorit, lalu merapikan kain penutup yang tadi agak acak sewaktu kutinggal pergi.
“Keluar, Nak. Mereka sudah pergi.”
Aku pun segera keluar dari tempat persembunyian tanpa membalas perkataan ibu.
“Ini, kamu makan dulu!” Ibu menyodorkan sesuatu yang terbungkus kantong plastik besar berwarna hitam.
“Dari orang-orang itu lagi, Bu?”
“Wis, ndak usah dipikirkan. Toh mereka yang bisa memberi kita makan!”
Ibu kemudian berlalu sambil memasukkan sesuatu ke balik baju—di sela-sela dadanya. Sesaat setelahnya, ia tersenyum. Senyum kepuasan tersendiri. Kutatap ibu hingga tubuhnya menghilang dari pandangan. Angin tiba-tiba berembus pelan. Tapi cukup membuat bau itu kian menusuk-nusuk hidungku.
Malam kedua, aku bertekad dapat melihat wajah para pembuat gunung. Semoga mereka tidak memakai masker seperti biasanya. Tak lupa kupastikan lubang buatan yang tertutup kain. Sempurna! Dari lubang itu, ibu terlihat celingak-celinguk—memastikan bahwa aku tak keluar.
Ibu menyambut para pembuat gunung dengan hangat. Tapi lagi-lagi mereka masih saja menggunakan masker. Salah satu dari mereka memandu yang lain. Seperti menginstruksikan sesuatu. Begitu juga dengan ibu. Ia seolah telah lupa bahwa aku bisa saja diam-diam keluar dan mengintip.
Mataku tak lepas saat melihat aksi mereka. Gunung berbau yang merana itu kini semakin tinggi. Degup jantung tak beraturan, membayangkan bagaimana jadinya bila gunung itu benar-benar meletus dan memuntahkan laharnya. Aku pasti mati tertimbun dan membusuk!
Aku berlari sekencang-kencangnya karena sudah kadung malas mengikuti permainan para pembuat gunung yang otaknya sudah pasti konyol itu. Ibu juga sama saja. Ia mau diperdaya dengan iming-iming menggiurkan yang kemarin kutahu disembunyikan di balik dadanya.
Terdengar derum mesin mobil perlahan menghilang, menembus pekatnya malam. Mereka telah pergi. Menyisakan ibu yang tertawa pongah sebab dadanya kian gendut sehabis menerima hadiah.
Paginya, aku terkejut saat para pembuat gunung datang. Berani juga mereka memunculkan batang hidungnya. Percakapan mereka tertangkap jelas oleh telingaku yang memang sudah kupasang sejak tadi. Kali ini aku tak lagi bersembunyi dan mengintip melalui celah lubang. Aku melihat mereka tanpa masker.
“Bantaran ini memang sangat pas untuk menerima limbah-limbah dari pabrik kita. Toh sampah-sampah itu sudah sejak lama dibuang bebas di kali ini.”
“Tapi gimana kalau seumpama ibu itu tiba-tiba berubah pikiran, terus melaporkan kita sama pemerintah setempat?
“Tak mungkin dia bakal melakukan itu. Sumpal saja mulutnya pakai hadiah itu. Bukannya dia senang kalau dadanya tambah gendut?”
Mereka tertawa keras di tengah suara truk yang mulai berjejer membawa bau-bauan. Perlahan gunung itu tinggi dan semakin tinggi. Aku menatap muntahan laharnya yang mulai merambat, masuk ke dalam gubuk reyot yang kuhuni bersama ibu. Sedangkan ibu, aku tak tahu di mana ia sekarang.