Cerpen Adit Febrian (Medan Pos, 23 Agustus 2020)

Saya merupakan salah satu spesies nokturnal, jadi tak sebegitu sering juga bersinergi dengan manusia. Kemungkinan saya dengan manusia untuk bertemu sangatlah tipis, apa lagi untuk saling bercengkrama satu sama lain. Namun, sore itu sebelum saya keluar untuk beraktivitas di malam hari. Saya mendengar desas-desus bahwa sebangsa saya di daerah jauh yang saya tak tahu itu di mana dan saya pun tak pernah ke sana, tapi saya sering dengar nama daerah itu dari mulut-mulut manusia yang saling mengobrol, televisi yang ditonton oleh manusia, dan dari koran bekas yang tak sengaja saya baca.
Ya, saya mendengar desas-desus itu di sore hari, di kala saya baru saja membuka mata dan ingin keluar untuk beraktivitas. Saya dengar bahwa sebangsa saya di daerah yang telah saya ceritakan tadi menjadi suatu penyebab asal virus mematikan yang menjangkit manusia. Itu yang saya dengar dari siaran televisi yang ditonton oleh seorang manusia.
Saya sangat terkejut, bagaimana itu bisa terjadi? Seperti yang sudah saya katakan di awal bahwa saya spesies nokturnal, jadi tak sebegitu seringnya juga saya atau teman-teman saya yang lain di penjuru dunia bersinergi dengan manusia. Kemungkinan saya dan teman-teman saya bertemu dengan manusia sangatlah tipis, apalagi untuk saling bercengkrama satu sama lain.
Saya tegaskan juga bahwa saya dan teman-teman saya juga hidup di wilayah yang berbeda dengan manusia. Saya dan teman-teman saya di wilayah atas dan lebih sering berterbangan, sedangkan manusia di wilayah bawah dan lebih sering berjalan. Lagi pula kebanyakan manusia aktif di siang hari, untuk bekerja dan melakukan aktivitas lainnya. Jadi, bagaimana mungkin bisa sebangsa saya yang berada di daerah itu bisa dikatakan sebagai asal virus yang menjangkit manusia? Saya masih tak paham, yang saya paham hanya mencari makan dan pulang sebelum matahari keluar dari sarangnya.
Namun, saya mendengar desas-desus lain setelah saya keluar dari sarang dan sedikit berkeliling. Saya mendengar dari atas pohon mangga samping masjid, ada beberapa manusia saling mengobrol satu sama lain di depan halaman masjid. Jumlah mereka ada 3 orang, satu orang berbaju batik dengan celana jeans, yang satunya berbaju kemeja dan bersarung warna hijau dengan pola kotak-kotak, dan sedangkan satu orang lagi berbusana muslim berwarna putih bersih memanjang sampai mata kaki lengkap dengan peci.
Si laki-laki berbaju batik kira-kira berumur 25 tahunan, sedangkan si laki-laki berbaju kemeja kira-kira usianya jauh 2 tahun dari usia si laki-laki berbaju batik. Dan, si laki-laki berbusana muslim itu kira-kira usianya 35 tahunan. Mereka saling berbicara satu sama lain, sepertinya saya tak asing dengan pembicaraan mereka bertiga. Ya, pembicaraannya sama dengan apa yang saya dengar dari televisi yang ditonton seorang manusia tadi sore, tapi mungkin ini jawaban dari pertanyaan saya sebelumnya.
“Saya lihat dari berita televisi, bahwa asal virus yang sedang melanda dunia ini berasal dari kalong. Apakah itu benar?” tanya laki-laki berbaju batik kepada laki-laki berbaju kemeja,
“Iya, saya juga telah melihat berita itu dan juga telah banyak mendengar dari orang-orang, bahwa asalnya dari kalong dan awal penyebaran virusnya berasal dari pasar hewan di daerah jauh di sana,” jawab laki-laki berbaju kemeja.
Dan, tiba-tiba saja laki-laki berbusana muslim keluar dari dalam masjid sehabis berdoa dan ia pun menghampiri si laki-laki berbaju batik dan juga si laki-laki berbaju kemeja yang sedang duduk di depan halaman masjid. Si laki-laki berbusana muslim pun ikut nimbrung pembicaraan mereka berdua.
“Ya, memang benar seperti itu beritanya. Lagi pula masyarakat yang berada di daerah itu kebanyakan orangnya rakus-rakus. Apa saja dimakan, contohnya saja kalong. Itu haram! Tak boleh dan tak bisa dimakan, tapi apa yang mereka lakukan? Mereka tetap memakannya, mereka tak bertuhan dan virus yang melanda saat ini itu azab bagi mereka semua!” Si laki-laki berbusana muslim itu tiba-tiba saja menyambar percakapan si laki-laki berbaju batik dengan si laki-laki berbaju kemeja. Seakan si laki-laki berbusana muslim itu sudah paham betul apa yang telah dibicarakan mereka.
“Kalau seperti itu mengapa seluruh dunia yang terkena batunya?” tanya si laki-laki berbaju kemeja kepada si laki-laki berbusana muslim. Tampaknya si laki-laki berbusana muslim itu sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan si laki-laki berbaju kemeja. Si lelaki berbusana muslim pun menjawab sekenanya saja, selepas itu pergi meninggalkan si laki-laki berbaju batik dan si laki-laki berbaju kemeja itu.
“Tak tahu, yang pasti itu azab! Itu azab!” katanya lalu pergi.
Setelah itu saya tak tahu lagi apa yang si laki-laki berbaju batik dengan si laki-laki berbaju kemeja lakukan dan bicarakan. Saya pergi meninggalkan pohon mangga samping masjid itu setelah saya menghabiskan satu buah mangga masak. Saya terbang pergi menjauh ke arah kebun belakang masjid, sambil terbang saya berpikir dan kepikiran akan hal yang mereka bertiga tadi bicarakan di depan halaman masjid.
Apakah benar seperti apa yang dibicarakan oleh si laki-laki berbusana muslim itu, bahwa masyarakat di daerah sana mengonsumsi spesies seperti saya? Kalau memang benar dengan apa yang dikatakannya, sungguh itu sangat menyeramkan dan juga menjijikan. Saya tak habis pikir kalau memang itu benar terjadi, tapi saya tak tahu apakah benar virus yang dibicarakan manusia itu berasal dari spesies seperti saya.
Namun, itu bisa saja terjadi, soalnya spesies seperti saya ini sering berkelana kemana saja. Ke gua, pegunungan, hutan dan berbagai macam daerah lainnya. Namun, saya sendiri tak tahu apakah spesies seperti saya ini membawa virus atau tidak sehabis berpergian. Kalau memang seandainya spesies seperti saya ini membawa virus sehabis berpergian lalu ditangkap oleh manusia dan dikonsumsi olehnya. Bukannya itu salah manusia itu sendiri? Mengapa mereka bilang asal-muasalnya dari spesies seperti saya? Jahat sekali manusia kalau seperti itu.
Lalu saya juga bertanya-tanya tentang azab. Mengapa Tuhan mengazab makhluk-Nya? Saya tak mengerti. Namun, yang bikin saya kesal adalah ketika saya mengingat kejadian dua minggu yang lalu. Ketika saya tersesat masuk ke dalam rumah manusia, manusia itu menjerit histeris ketika melihat saya berterbangan di sekitar ruang tamu dalam rumahnya.
Ia bilang bahwa saya menjijikkan, saya pembawa penyakit, bangsat dan lainnya. Hampir Saja saya juga terkena hantaman batang kayu yang diayunkannya ke udara sambil mencaci maki saya. Untungnya saya bisa keluar dari rumah itu dengan selamat meski dengan hati yang kesal. Kalau saya kaitkan dengan yang dibicarakan oleh laki-laki berbusana muslim tadi, sepertinya kejadian dua minggu lalu yang saya alami itu ironi sekali. Kalau manusia dua minggu yang lalu bilang bahwa saya menjijikkan, pembawa penyakit, bangsat dan lainnya. Mengapa si laki-laki berbusana muslim itu bilang bahwa ada manusia yang mengonsumsi spesies seperti saya?
Tapi saya pikir, saya ini nggak jorok-jorok amat dibanding manusia. Saya pernah lihat manusia yang berbondong-bondong saling membuang sampah sembarangan ke sungai hingga menyebabkan air sungai meluap dan akhirnya terjadi banjir. Tak ke sungai saja, ada juga manusia yang membuang sampah ke selokan-selokan dengan sengaja tanpa rasa bersalah. Dan, juga dua hari lalu saya memergoki seorang pemuda masuk ke kebun dan buang hajat dengan seenaknya di bawah pohon kelapa yang saya tempati. Apakah itu tidak menjijikkan? Saya bingung, sebenarnya siapa yang menjijikkan?
Setelah sampai kebun belakang masjid, saya langsung mencari buah pisang. Buah pisang di kebun belakang masjid memang menjadi salah satu makanan favorit saya, tapi buah pisang di kebun belakang masjid juga menjadi bagian dari kisah tragis yang saya alami dua bulan yang lalu. Ketika saya dan teman saya sedang asyik memakan buah pisang di kebun belakang masjid malam itu, tiba-tiba saja teman saya terkena lemparan batu. Yang ternyata batu itu berasal dari lemparan sekelompok anak muda yang sedang mencuri buah mangga di kebun belakang masjid.
Teman saya mati seketika terkena lemparan batu itu, hingga saat ini baru saya memberanikan diri lagi untuk memasuki kebun belakang masjid itu. Sepertinya trauma saya akan kejadian dua bulan yang lalu itu sudah hilang. Namun, setelah beberapa menit saya sampai di kebun belakang masjid, dan singgah di salah satu pohon pisang. Saya mendengar sekelompok anak muda mendekat ke arah kebun itu. Sepertinya sekelompok anak muda itu ingin mencuri buah mangga lagi, tapi ternyata dugaan saya salah. Ternyata sekelompok anak muda itu ingin mencuri singkong yang ditanam oleh seseorang di kebun itu.
“Jangan berisik, nanti bisa ketahuan!” seru salah satu anak muda itu kepada teman-temannya,
“Tanpa kau beritahu aku pun sudah tahu akan itu, bodoh!” sahut anak muda yang lain.
“Tapi aku lebih takut dengan kalong sekarang ini dari pada ketahuan pemilik kebun, aku takut terjangkit virus dari kalong,” kata pemuda yang pertama tadi bicara. Teman-temannya yang lain hanya diam tak menghiraukannya, dan hanya asyik mencabuti pohon-pohon singkong dari tanah. Namun, tiba-tiba saja pemuda yang kedua berbicara tadi menyahut.
“Virus itu bukan berasal dari kalong. Namun virus itu adalah senjata biologis, semua ini konspirasi dan buatan!” kata pemuda itu,
“Iya benar, itu konspirasi!” Serentak sekelompok anak muda itu bicara.
Saya yang tak tahu apa-apa, apalagi itu tentang konspirasi hanya terdiam di atas pohon pisang dekat pohon singkong yang sekelompok anak muda itu curi. Karena takut kejadian tragis dua bulan yang lalu terulang kembali, akhirnya saya memutuskan untuk pergi menjauh dari sekelompok anak muda itu. Saya pergi ke arah dalam kebun yang lebih dalam dan gelap agar jauh dari jangkauan manusia, mencari pohon pisang yang lain untuk memakan semua buahnya lalu tertidur setelah kekenyangan. Oh, indah sekali saya pikir hidup saya ini, tanpa harus berpikir tentang azab dan teori konspirasi. Tanpa seperti manusia di tengah pandemi yang berbahaya.