Cerpen Mia Karneza (Medan Pos, 30 Agustus 2020)

Menurut Nafika, merantau adalah jauh dari orang tua dan menetap di kota yang berbeda yang sangat lama. Sejak kelas tiga sekolah menengah atas—tahun 2014—Nafika ingin merantau. Itulah alasan kenapa ia mendaftar kuliah di luar Padang—tempat tinggal orang tua—Nafika memilih Pekanbaru untuk merantau.
Mungkin banyak yang bertanya; kenapa gak di tanah Jawa saja kuliahnya atau jikapun masih di Sumatera, kenapa tidak di Aceh, Medan, Palembang atau di kota lain yang ada di Sumatera? Kenapa harus di Pekanbaru?
Alasan pertama; saudara dari pihak Ayah ada di Pekanbaru. Sehingga, sewaktu-waktu Nafika bisa bersilahturahmi di hari Sabtu, Minggu atau hari libur lainnya. Sementara di Jawa, tidak ada. Eh, kalau diingat-ingat, ada sich adik Ibu di Jawa dan saudara Ayah yang lain di Jakarta ataupun di Bekasi. Tapi, entah kenapa waktu itu Nafika memilih Pekanbaru sebagai tempat merantau.
Alasan kedua; kuliah di tanah Jawa, ongkos dan biaya hidup lebih mahal dari pada di tanah Sumatera—Pekanbaru.
Tapi, Allah berkehendak lain. Nafika tidak jadi merantau ke Pekanbaru pada tahun 2014. Nafika merantau lima tahun kemudian, di tahun 2019 ke tanah Jawa. Tanpa biaya sepersenpun dari orang tua ataupun dari Nafika, alias gratis. Nafika merantau ke Jawa bukan karena untuk kuliah tapi untuk kerja. Ya, Nafika kerja di tanah Jawa.
Perasaan Nafika sangat bahagia, karena setelah tujuh belas tahun yang lalu Nafika meninggalkan Jawa kini Nafika kembali. Nafika menggunakan pesawat untuk ke Jawa. Jika tujuh belas tahun yang lalu Nafika menggunakan bus, butuh waktu tiga hari dua malam dari Karawang ke Padang maka kini menggunakan pesawat dari Padang ke Jakarta hanya butuh waktu dua jam. Dilanjut dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta ke Bekasi butuh waktu dua jam. Jadi hanya butuh waktu empat jam ke tanah Jawa.
Sesampainya di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Nafika takjub karena Bandara yang satu ini sangat luas. Selama perjalanan menggunakan Damri, mata Nafika tidak berkedip sedetikpun melihat gedung-gedung tinggi dan jalan yang menyentuh langit. Nafika mengingat-ingat kota Jakarta yang kini dengan tujuh belas tahun yang lalu. Sangat berbeda.
Selama merantau banyak sekali pelajaran yang bisa Nafika petik. Pertama, saat Nafika sakit, saat di Padang selalu melapor ke Ibu dan Ibu akan membuatkan obatnya, misal Nafika lagi sakit perut karena datang tamu. Ibu tahu obat untuk sakit perut dan Ibu akan membuatnya bahkan diantar ke kamar Nafika. Atau saat Nafika kecelakaan dan kakinya keseleo bahkan tidak bisa berjalan, Ibu lah yang mengantarkan makanan ke kamarnya. Selama empat hari Nafika hanya terbaring di kasur, tidak keluar dari kamar. Di hari ke lima karena bosan di kamar, Nafika keluar kamar namun berjalan butuh bantuan. Kaki kirinya bisa digerakan sementara kaki kanannya harus menggunakan kursi yang ditahan oleh lutut atau Nafika harus ngesot untuk keluar kamar. Nafika berpikir saat itu kaki kananku sudah tidak bisa digunakan lagi. Pikiran buruknya, kaki kanannya harus diamputasi.
Sementara saat Nafika di rantau orang, sakit yang dirasa ditahannya sendiri. Tidak ada tempat Nafika mengadu atau yang memanjakanku dikala sakit. Bahkan saat sakit, dipaksakan diri untuk bekerja. Pernah waktu itu, kepalanya sangat pusing—Nafika yakin tensinya saat itu rendah—dan perutnya sakit karena sedang datang tamu. Nafika tetap kerja dan tidak bilang Nafika sedang sakit. Nafika gak tahu, alasannya kenapa bibir Nafika susah sekali mengatakan kalau Nafika sedang sakit. Nafika lebih memilih menyembunyikan rasa sakitnya dari pada harus bercerita. Malam harinya, Nafika menangis dan ingin teriak bahkan Nafika mengakui kalau merantau—jauh dari orang tua—itu tidak seenak apa yang dipikirkan selama ini.
Kedua, Nafika harus pandai-pandai menyimpan dan mengeluarkan keuangannya. Satu hari, Nafika pernah mengirim uang pada Ibu, hasil dari menulisnya. Nafika mengirim uang pada adik Ibu yang di Padang, karena hanya tante yang punya nomor rekening. Tante bercerita, kalau Ibu terharu dan menangis karena Nafika memberi uang pada Ibu. Kiriman uang yang ke dua yang jumlahnya tidak banyak, masih mengirim uang melalui tante. Dua jam kemudian, Ibu mengirim pesan padaku, “Terima kasih sudah mengirim uang, Nak. Ibu sudah menerima uangnya.” Hiks. Seketika air mata Nafika tumpah karena Ibu mengucapkan terima kasih pada Nafika. Sementara Nafika, saat Ibu meberi uang untuk kebutuhannya, Nafika malah marah-marah karena uang yang dikasih kurang. Nafika kurang bersyukur. Astagfirullah. Dari sini Nafika banyak belajar, harus bersyukur dan mengucapkan terima kasih bila diberi sesuatu meski jumlahnya jauh dari apa yang kita harapkan.
Itu, dua dari sekian banyak pelajaran yang bisa Nafika petik selama merantau. Oh ya, Nafika sudah sembilan bulan enam hari di rantau orang—23 Mei 2020. Untuk pertama kalinya, hari raya Idul Fitri yang jatuh pada besok hari minggu—24 Mei 2020—Nafika merayakannya tanpa orang tua. Air mata Nafika tumpah, ketika takbir berkumandang di masjid. Inilah kisah Nafika selama di rantau. Mungkin, ada ribuan orang yang bernasib sama dengan Nafika, tahun ini tidak bisa merayakan kemenangan bersama orang tua.
Allah sudah mewujudkan keinginan Nafika untuk merantau. Keinginan Nafika kali ini ingin pulang ke Ranah Minang saat Idul Adha. Akankah keinginanya terkabul?