Cerpen Indra Junaidi (Medan Pos, 20 September 2020)

Begitulah budaya kita. Budaya dalam artian di sini adalah suatu kebiasaan yang terus diulang secara turun-temurun, dan hal itu sudah diperbolehkan dalam adat. Namun, kadang akan menjadi sebuah persoalan baru dalam tantangan hidup, yang mana seorang laki-laki terus diajarkan untuk merantau. Sedari kecil ia sudah jarang di rumah, sebab ia tinggal di Surau. Ketika bujang ia malah semakin meninggalkan rumah menuju ranah yang bernama rantau. Kembali ke rumah, berharap segudang ilmu yang ia bawa dari rantau, namun kenyataannya tidak seperti yang ia harapkan. Berharap pulang membawa hujan emas di rantau. Sebab kata orang, hujan batu di kampung sendiri, hujan emas di rantau orang.
Lembaran hari di rantau sudah lama ia jejaki. Kini kembali sebagai bujang yang telah menahan para gadis di ranahnya dengan cukup lama. Hampir satu dekade ia bergulat dengan rantau yang telah menjadi pusat bangsa ini. Di mana segala harapan seolah digantung di situ. Namun kenyataan sebenarnya tidak, justru kota-kota itulah yang bergantung pada kampung-kampung, karena telah berapa harta alam ini mereka kuras demi kemajuan cahaya Ibu Kota.
Sepertinya nasib semakin mendesaknya untuk menikah. Seorang wanita kampung yang belum ia kenal seutuhnya, terpaksa ia kawinkan melalui persepakatan antara orang-orang yang mestinya tidak berhak menjadi penentu jodohnya. Ya begitulah budaya. Perjodohan sudah menjadi budaya di sini. Ketika seorang bujang menikah, maka ia akan tinggal di rumah istrinya sampai sang suami punya rumah sendiri. Hal itu juga sudah menjadi budaya. Namun sayangnya, sang suami yang merantau tidak bisa membuktikan ilmu yang ia dapatkan dari rantau untuk bisa mencari uang agar rumahnya sendiri bisa terbangun, biar tak ada enak rasa di atas rumah.
Andai saja jika tetap di kampung halaman, lalu fokus menggarap sawah dan ladang, barangkali sudah terkumpul uang untuk membangun rumah, kemudian menikah dengan wanita yang ia kenal. Sampai waktu beranjak pada belasan tahun, ia masih tinggal di rumah mertuanya yang dihuni oleh istrinya, anak perempuannya, bapak mertua, serta adik iparnya. Tapi tetap saja kehidupan terus berjalan semestinya, sampai pada suatu ketika, sebuah alasan yang entah kenapa orang-orang di atas rumah tidak memahami perilaku anaknya sendiri.
“Haaaaa, pergi kau, pergi kau dari sini, lelaki kurang ajar, perampas,” ucap anaknya dalam semburat wajah ketakutan melihat pintu kamarnya sendiri.
“Sudahlah, Nak, kau kenapa, sudah dua bulan ini kau ketakutan melihat pintu kamar itu.”
“Haaaaaa, bangsat, dasar biadab,” suara teriakan itu terus terdengar ketika hujan mulai turun. Suasana yang dingin, namun dada Asnah semakin panas. Entah kenapa Asnah selalu saja memekik tak karuan ketika hari mulai hujan. Lalu ia keluar dari kamarnya sendiri. Ia melihat seperti ada sesuatu yang aneh terjadi ketika hujan di pintu kamarnya. Teriakan itu terdengar jelas sampai membuat rasa tidak enak keluarga kepada para tetangga. Alasan Asnah berteriak pun tidak tahu apa penyebabnya. Seperti ada sugesti atau seolah ia melihat arwah yang bergentayangan ketika hujan tersebut.
“Buk, apakah kita perlu panggil dukun untuk menyembuhkan anak kita, Buk?” Berobat ke dukun juga sudah menjadi budaya di tempat ini.
“Tidak perlu rasanya Pak, aku tidak percaya yang begituan.”
“Tapi dia seperti kerasukan hantu, Buk. Ketika malam dan hujan turun dia seolah menunjuk sesosok yang tidak bisa kita melihatnya Buk. Entah apa yang dia tunjuk, hanya depan pintu kosong yang tidak ada apa-apa,” teriakan itu hanyut ketika malam mulai rembang dan Asnah mulai lelah.
Malam berikutnya hari sedang baik. Tidak ada hujan, tidak ada badai dan tidak ada petir nan menyala. Yang ada sebaris bintang-bintang yang bertengger di langit malam. Asnah duduk di pojok teras rumah, sambil memegang sebuah buku catatan usang. Dia sering menulis banyak hal di buku itu. Barangkali sudah banyak puisi yang ia ciptakan setiap hari, ketika hujan tak lagi turun. Langit yang berbintang adalah ruang bagi dia menulis beberapa puisi dan rasa keresahan hatinya.
“Ini goreng pisang, Nak, sedang apa kau di sini duduk sendirian, Bapak temani ya,” laki-laki itu tersenyum, lalu membelai rambutnya Asnah.
“Hmmm,” deham sedikit dari Asnah, dan sedikit mengeluarkan wajah trauma. Sementara bapaknya mencoba meredamkan ketakutan dengan pelukan hangat orang tua.
Gadis remaja itu telah lama kehilangan senyumnya, dan jarang sekali bicara. Asnah dulunya bukan seorang pendiam, dia adalah anak periang dan murah senyum. Sempat bapaknya ingin melihat buku catatannya, namun dia berontak. Sepertinya buku catatan itu sangat berharga, dan tidak boleh seorangpun yang memegang.
Bayang-bayang itu muncul lagi pada malam hari di pikirannya. Hari hujan adalah bentuk pemancing ingatannya tentang peristiwa yang memilukan itu.
“Jangan kau bilang siapa-siapa kejadian malam ini, hanya kita yang tahu. Paham?” Sebuah suara dari pria bertopeng yang masuk ke kamar tidurnya di malam itu. Sebuah suara yang sepertinya ia mengenali. Namun kurang jelas, sebab ia sedikit merubah nada suaranya menjadi serak. Malam itu adalah malam penghancuran bagi Asnah dan masa depannya, sebab saat itu dia tak lagi perawan. Seseorang bertopeng yang memeluk ia erat malam itu. Namun ia sepertinya kenal pelukan itu, ia kenal helusan pada rambutnya itu.
“Haaaaa, pergi kau, pergi kau dari sini, lelaki kurang ajar, perampas! Haaaaaa, bangsat, dasar biadab,” ucapnya dalam semburat wajah ketakutan melihat pintu kamarnya sendiri.
Di malam berikutnya, ia masih duduk di pojok teras rumah. Renung nan panjang serta buku catatan yang ia genggam sedari tadi, telah sembilan judul puisi yang ia buat. Sementara Ibunya mendekat sebab sedari tadi ia perhatikan Asnah hanya sendirian di sana.
“Sedang apa kau di sini, Nak?” Asnah hanya diam, dan tidak memperdulikan perkataan Ibunya. Sepertinya Asnah punya dunianya sendiri. Sejak saat itu Asnah tidak butuh ditemani siapa pun. “Nak, ceritalah, Nak, apa yang kau pikirkan. Kenapa kau murung sekali akhir-akhir ini,” ucapan dari ibunya yang tidak sama sekali ia pedulikan. “Ohh ya, kamu kan dari kecil suka nulis, hmm Ibu lihat kamu sering nulis di buku itu, boleh Ibu melihatnya Nak?”
“Tidakkkk,” Asnah berteriak sambil memegang erat buku catatannya.
“Hmm, baiklah kalau kamu tidak mau, Ibu juga tidak memaksa kok.” Percakapan sepanjang malam mekar sendiri. Bercerita tentang kebiasaan lucu dari Asnah, kegemarannya waktu kecil dan lain-lain. Meski yang berbicara hanya ibunya Asnah, dan tidak ada respon dari Asnah, sampai malam jatuh pada kantuk. Sementara dalam tatapan tajam di balik jendela, Bapaknya Asnah memantau keluar mengarah ke Asnah dan ibunya. Entah apa yang Bapak itu lihat dengan tajam. Seperti mengintai seseorang yang serupa rusa nan hendak diterkam harimau buas.
Di bulan ke sembilan sejak Asnah mengalami trauma, yang mana orangorang tidak tahu alasannya Asnah trauma. Malam itu lengkap, hujan turun lebat, Asnah berteriak menunjuk sebuah pintu kamarnya sendiri. Sementara perutnya yang entah kenapa ada bayi dalam rahimnya. Bayi itu ingin bernapas ke luar dari perut Asnah. Orang-orang sekitar rumahnya gempar tentang kabar Asnah yang melahirkan. Ada pandangan sinis tetangga terhadap bapaknya dan padangan itu menular kepada anaknya yang memberikan keperawanannya pada seorang pria, yang mana para tetangga menaruh rasa curiga nan teramat besar pada bapaknya.
Di pintu luar, ada bapaknya Asnah yang masih memandang tajam ke Asnah serta ke buku catatan itu. Sebab sudah sembilan bulan ini ia tidak diberikan kesempatan untuk melihat buku catatan tersebut. Biasanya Asnah sering berdiskusi tentang puisi karyanya sama bapak. Namun sejak saat itu ia berbeda, ada rahasia di antara kita dan orang-orang seisi rumah tidak tahu apa yang ia tulis di sepanjang malam. Seperti ada goresan trauma yang ia buat di buku itu.
“Agaknya ini kesempatanku untuk melihat rahasia di dalam buku catatan itu.” Bapaknya langsung mencari-carai buku catatan Asnah di antara deratan buku-buku novel koleksinya.
“Sedang apa kau, Pak, terburu-buru sekali, apa yang hendak kau cari di rak buku Asnah itu?” tanya ibunya Asnah, sebab heran dengan yang dilakukan suaminya.
“Sudahlah, Buk, kau urus saja persalinan anakmu itu, aku ingin mencari buku catatan Asnah.”
“Apakah itu lebih penting sekarang, Pak?”
“Nah, ini dia, buku yang sering dipegang erat oleh Asnah.”
Sejenak waktu terhenti dan pikiran bapaknya Asnah terhenti juga, ketika membaca isi dalam buku catatan tersebut. Saat itu dadanya makin panas. Lalu ia mengambil sebuah palu ke dapur. Kemudian terus menuju sebuah kamar adik dari istrinya. Tragedi berdarah hadir pada malam itu. Bapak yang sudah berumur kepala empat itu, tak bisa menahan emosinya dan pikirannya pendek, ketika mengetahui anaknya disetubuhi oleh adik iparnya sendiri.
“Aku dipeluk erat dalam syahwat oleh Paman,” sebuah catatan kecil dalam setiap lembar buku yang sering Asnah pegang. Berulang kali palu itu dihantamkan ke kepala adik iparya, darah bergelimang di sekitar kamar. Tepat hari ini, sembilan bulan yang lalu, untuk pertama kalinya darah juga terpancar di kamar anaknya, karena pelakuan adik iparnya yang merampas keperawanan anaknya. Malam itu benar-benar setan penuh sesak di atas kepalanya. Sejak saat itu bapaknya Asnah mulai berbicara sendiri dan sering berteriak-teriak tengah malam ketika hujan turun dengan lebat.